Frame 117

Tipuan Ke-14 (Bag.1)

By Kak Novia Syahidah

Di sebuah desa di Hindustan, hiduplah seorang pedagang bernama Jitendra yang tiap hari bangun pagi, bekerja keras, dan istirahat larut malam, namun tetap saja ia sangat miskin. Nasib buruk begitu menghantuinya hingga dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu negeri yang jauh dan mencoba peruntungannya di sana.

Dua belas tahun berlalu, peruntungannya telah berubah dan sekarang dia telah menjadi orang kaya. Dia memiliki kekayaan yang dapat membuatnya hidup nyaman sampai akhir usia. Meskipun sudah kaya raya, dia masih teringat tentang desa asalnya, di mana dia ingin menghabiskan sisa hidupnya.

Agar kekayaannya dapat dibawa dengan aman dalam perjalanan jauh, dia membeli beberapa perhiasan yang sangat indah, dia simpan dalam sebuah kotak kecil. Supaya tidak menarik perhatian para pencuri dan perampok yang sering menghadang di perjalanan, lelaki itu menyamar sebagai orang miskin dengan pakaian buruk.

Setelah Jitendra melakukan perjalanan hingga tiba di sebuah kota di mana ia memutuskan untuk membeli pakaian yang lebih baik. Ia ingin nanti sampai di desanya dengan pakaian yang bagus, sebab kini ia bukan orang miskin lagi. Dengan pakaian barunya dia melihat-lihat suasana kota, ada banyak toko yang penuh dengan sutra mahal, karpet, dan barang-barang dari berbagai negara.

Ada satu toko yang tampak lebih bagus dari toko lainnya. Di dalam toko, di tengah-tengah barang dagangannya, duduk si pemilik sedang meneguk minumannya. Jitendra membungkuk memberi hormat dengan sopan kepada pemilik toko. Ia pun membeli beberapa barang di sana.

Pemilik toko yang bernama Beeka Mull, adalah orang yang sangat cerdik, dan ketika dia dan Jitendra berbincang, dia segera merasa yakin bahwa pelanggannya lebih kaya daripada yang terlihat, namun berusaha menyembunyikan fakta tersebut.

Beeka Mull bertanya kepada Jitendra ke mana dia akan bepergian, yang dijawab Jitendra sambil menyebut nama desanya.

“Wah, sebaiknya kau berhati-hati di jalan itu, sebab di sana banyak pencuri dan perampok,” kata Beeka Mull mengingatkan.

Jitendra menjadi pucat mendengarnya. Akan menjadi hal yang pahit, pikirnya, di saat sudah dekat ke desanya, semua kekayaan yang telah ia kumpulkan dengan sangat hati-hati malah dirampok. Beruntung Beeka Mull mengingatkannya.

Maka setelah berpikir sejenak, Jitendra pun berkata, “Tuan, bisakah aku menitipkan sebuah kotak kecil padamu untuk sementara waktu? Ketika aku sampai di desaku, aku akan kembali bersama sanak saudaraku untuk mengambilnya lagi.”

Beeka Mull menggelengkan kepala. “Aku tidak bisa melakukannya. Aku minta maaf tapi hal seperti itu bukan urusanku. Aku takut melakukannya.”

“Tapi aku tidak kenal siapa pun di kota ini, dan kau pasti mempunyai suatu tempat untuk menyimpan barang-barang berhargamu. Tolong bantu aku, Tuan,” kata Jitendra memohon.

Tetap saja Beeka Mull dengan sopan namun tegas menolak. Jitendra merasa Beeka Mull orang yang amanah karena ia terus menolak. Apalagi pemilik toko itu juga terlihat ramah dan baik. Jitendra tak berani meminta tolong pada pemilik toko lain, takut nanti makin banyak orang yang tahu kekayaannya. Itu berbahaya.

Ia pun terus mendesak Beeka Mull, hingga akhirnya lelaki bertubuh gemuk itu menyetujuinya. Jitendra lalu mengeluarkan kotak kecil berisi perhiasan mahal dan Beeka Mull menguncinya di dalam peti yang kuat. Mereka pun berpisah setelah sama-sama membuat janji untuk bertemu lagi.

Pembicaraan panjang antara Beeka Mull dan saudagar itu mau tidak mau menarik perhatian para pemilik toko lain. Jitendra tidak tahu, hampir semua pemilik toko di tempat itu adalah pencuri, dan yang paling pintar dan terbesar di antara semuanya adalah Beeka Mull. Mereka sudah saling tahu dan saling menolong dalam kejahatan.

Jitendra sesungguhnya masih menyimpan kekhawatiran akan hartanya yang ia titipkan pada orang asing. Maka sebelum meninggalkan kota tersebut ia sempatkan berkeliling pasar dan mengobrol dengan pedagang lain sambil menanyakan tentang Beeka Mull. Pedagang yang ia temui memuji Beeka Mull sebagai orang yang baik dan jujur. Tentunya ada harapan mendapat imbalan atas pujian bohong itu.

Mendengar jawaban pedagang itu Jitendra pun merasa tenang. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju desanya. Tak berlama-lama ia pun mengajak saudara dan tetangganya yang laki-laki untuk kembali ke kota, mengambil kotak titipannya yang sangat berharga. Tak lupa ia memakai baju yang sederhana demi menutupi kekayaannya dari para perampok di jalanan.

Di pasar besar di tengah kota itu, Jitendra meninggalkan teman-temannya di suatu tempat dan berkata, “Aku akan pergi mengambil kotak perhiasan itu dan akan segera kembali ke sini.”

Mereka pun setuju dan menunggu Jitendra di tempat tersebut.

Sesampainya di toko Beeka Mull, Jitendra menghampiri dan memberi hormat.

“Selamat siang, Tuan,” katanya.

Beeka Mull pura-pura tidak melihatnya.

Lalu dia mengulangi salamnya.

“Apa yang kamu inginkan?” bentak Beeka Mull, “Kamu sudah mengucapkan salam dua kali, apa urusanmu ke sini?”

“Tuan, apakah kau tidak mengingatku?” tanya Jitendra heran.

“Mengingatmu? Sama sekali tidak! Banyak yang harus kulakukan untuk mengingat pelanggan yang baik tanpa berusaha mengingat setiap pengemis yang datang merengek meminta amal.”

Ketika mendengar hal ini Jitendra mulai gemetar.

“Tuan!” serunya, “Pastinya Anda ingat kotak kecil yang kuberikan padamu untuk dititipkan? Dan Anda berjanji dengan sangat baik hati akan menjaganya sampai aku kembali untuk mengambilnya.”

“Dasar pembual!” seru Beeka Mull, “Keluar dari tokoku! Semua orang tahu bahwa aku tidak pernah menyimpan harta untuk siapa pun. Aku punya banyak kesibukan untuk menjaga milikku sendiri! Ayo, pergilah menjauh!”

Dia mulai mendorong Jitendra keluar dari toko. Dan ketika lelaki malang itu melawan, dua orang di sekitar datang membantu Beeka Mull, lalu melemparkan Jitendra ke jalan, seperti sekumpulan barang yang dijatuhkan dari punggung sapi.

Perlahan-lahan Jitendra bangkit dengan kondisi berdebu, memar, dan berdarah, tetapi ia tidak merasakan sakit di tubuhnya, hanya sensasi mati rasa yang menyelimuti tubuhnya. Ia terlalu frustrasi dengan apa yang dialaminya. Harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun kini lenyap.

Perlahan-lahan dia menyeret kakinya sedikit lebih jauh dari tempat Beeka Mull yang masih marah, berdiri di antara sutra dan karpetnya yang berantakan. Sampai di sebuah dinding di belakang toko Beeka Mull, dia berjongkok dan bersandar di dinding itu dengan rasa putus asa. Di situ dia duduk tak bergerak, seperti seseorang yang berubah jadi batu.

Kerabat sekampungnya yang mengantar akhirnya pulang karena Jitendra tidak muncul-muncul. Mereka mengira Jitendra sudah pulang meninggalkan mereka.

Sekitar pukul sebelas malam itu, seorang pemuda bernama Kooshy lewat bersama seorang temannya. Melihat Jitendra duduk membungkuk di dinding, dia berkata pada temannya, “Tidak diragukan lagi, dia pasti seorang pencuri.”

Temannya membalas, “Pencuri tidak duduk di hadapan orang-orang seperti itu, bahkan di malam hari.”

Maka keduanya pun berlalu dan tidak memikirkan dia lagi. Sekitar pukul lima subuh keesokan harinya, Kooshy kembali ke rumah. Seketika dia heran melihat Jitendra masih duduk seperti yang dia lihat tadi malam. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada pria yang duduk sepanjang malam di jalan terbuka, dan Kooshy  memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi. (Bersambung)

Disclaimer: Tulisan ini adalah cerita rakyat setempat yang tidak diketahui penulis aslinya dan ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah (Pengasuh KBM for Kids) dengan beberapa perubahan tanpa menghilangkan intisari cerita.

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage