Frame 117

Tipuan Ke-14 (Bag. 2)

By Kak Novia Syahidah

Jadi dia mendekat dan mengguncang bahu Jitendra dengan lembut.

“Siapa Anda?” tanyanya, “Apa yang Anda lakukan di sini? Apakah Anda sakit?”

“Sakit?” tanya Jitendra dengan suara hampa, “Ya, menderita penyakit yang belum ada obatnya.”

“Ah, omong kosong!” seru Kooshy, “Ikutlah denganku, aku tahu obat yang bisa menyembuhkanmu.”

Maka pemuda itu mencengkeram lengan Jitendra dan mengangkatnya untuk berdiri. Ia menyeret Jitendra ke rumahnya, memberinya segelas minuman dan juga makanan. Lalu memintanya menceritakan apa yang terjadi.

Jitendra merasakan kepercayaan dirinya bangkit kembali melihat perlakuan Kooshy, lalu tanpa basa-basi menceritakan semua yang telah terjadi.

Kooshy pun tertawa terbahak-bahak membayangkan ada orang asing yang mempercayakan kekayaannya kepada Beeka Mull.

“Dia bajingan terhebat di kota ini!” serunya menahan tawa.

Jitendra melongo menyadari siapa orang yang telah ia titipi kota perhiasan itu.

“Baiklah, tidak ada yang bisa dilakukan saat ini, kecuali diam di sini saja, dan kupikir dalam waktu dekat aku akan menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakitmu.”

Mendengar hal ini, Jitendra kembali berasa bersyukur bertemu Kooshy dan menerima ajakan teman barunya itu.

Beberapa hari kemudian Kooshy memanggil beberapa temannya untuk datang ke rumah dan mereka berbicara lama. Meskipun Jitendra tidak mendengar percakapan tersebut, dia mendengar tawa seolah-olah sedang bercanda. Sejenak ia bimbang. Apakah Kooshy serius mau membantunya?

Beberapa hari kemudian, Kooshy mendatanginya dan berkata, “Anda masih ingat tembok tempat aku menemukanmu malam itu? Di dekat toko Beeka Mull.”

“Ya, masih,” jawab Jitendra.

Lanjut Kooshy, “Siang ini Anda harus pergi dan berdiri di tempat yang sama lalu menonton. Ketika seseorang memberi isyarat kepadamu, kamu harus menemui Beeka Mull dan memberi hormat kepadanya dan berkata: Wahai Tuan, apakah engkau mengizinkan aku mengambil kembali kotak milikku yang aku percayakan padamu waktu itu?”

“Apa gunanya itu?” tanya Jitendra, “Dia tidak akan mengabulkannya.”

“Tidak apa-apa,” jawab Kooshy, “Lakukan saja persis apa yang aku perintahkan. Ulangi persis seperti apa yang kukatakan, kata demi kata.”

Maka sore itu, Jitendra pergi dan berdiri di dekat tembok sesuai perintah Kooshy. Tak lama kemudian, di pasar muncul tandu cantik seperti yang biasa digunakan oleh para wanita berpangkat tinggi. Tandu itu diangkut oleh empat orang lelaki yang berpakaian bagus dengan corak yang mewah, tirai serta hiasannya sungguh megah.

Sayangnya tak ada yang bisa melihat jelas sosok di dalam tandu tersebut karena ditutupi tabir berlapis-lapis. Orang-orang berpikir, pasti yang di dalamnya adalah wanita terhormat dan kaya raya.

Di belakang tandu itu berjalan seorang pelayan dengan sebuah kotak yang ditutupi kain di kepalanya.

Tandu itu dibawa dengan langkah yang gagah dan berhenti di depan toko Beeka Mull. Penjaga toko yang gemuk itu segera berdiri, dan membungkuk dalam-dalam sebagai penghormatan. Meskipun ia tidak bisa melihat siapa yang ada dalam tandu tapi ia yakin itu pasti wanita kaya raya.

“Bolehkah saya bertanya, siapakah orang yang ada di dalam tandu ini yang berkenan mengunjungi toko saya yang sederhana ini? Dan apa yang bisa saya lakukan untuknya?” sapa Beeka Mull santun.

Salah seorang pengusung tandu menjawab, “Istri tuan kami ini ingin bepergian, tetapi karena suaminya juga tidak di rumah, dia ingin menitipkan sekotak perhiasan pada Anda. Kami dengar Anda adalah orang yang baik dan jujur serta memiliki peti penyimpanan yang aman.”

Beeka Mull membungkuk menjawab, ”Maaf, Tuan, itu bukan pekerjaan saya tapi jika bisa menyenangkan hati seorang wanita terhormat tentu saya akan sangat bahagia, dan saya akan menjaga kotak itu dengan nyawa saya.”

Kemudian pelayan yang membawa kotak di belakang tandu dipanggil. Kotak itu tidak dikunci, dan setumpuk besar perhiasan dibuka di hadapan Beeka Mull yang langsung terpesona. Mulutnya menelan ludah melihat perhiasan dan batu-batu permata itu.

Semua itu diperhatikan Jitendra dari kejauhan. Ia pun melihat sebuah tangan memberi isyarat melalui tirai di sisi tandu itu. Apakah ini tandanya ia harus mendekat? Jitendra ragu.

Tangan itu memberi isyarat lebih keras lagi, sepertinya dia tidak sabar. Maka Jitendra pun maju melangkah menuju toko tersebut. Ia langsung memberi hormat pada Beeka Mull, yang masih terkesima melihat isi kotak perhiasan di depannya.

“Wahai Tuan, apakah engkau mengizinkan aku mengambil kembali kotak milikku yang aku percayakan padamu waktu itu?” tanya Jitendra, membuat Beeka Mull terkejut dan melotot. Ia seperti disengat lebah.

Akan tetapi dengan cepat terlintas dalam benaknya yang lihai, bahwa jika pria ini mulai membuat keributan lagi, dia akan kehilangan kepercayaan dari para pelanggan baru yang lebih kaya ini. Jadi dia berusaha mengendalikan diri, dan menjawab, “Ya ampun, tentu saja! Aku malah sudah menunggumu sejak tadi!”

Dia pun masuk dan keluar membawa kotak kecil milik Jitendra. Dengan senyum lebar ia menyerahkannya ke tangan Jitendra yang gemetar menerimanya. Ia tak percaya hartanya bisa kembali.

Dengan cepat ia mengeluarkan kunci, membuka kotak itu. Semua hartanya utuh. Saking senangnya ia pun menari di jalanan pasar, tak peduli jadi tontonan orang ramai.

Sementara itu, seorang utusan datang berlari menuju tandu di depan toko Beeka Mull. Memberi hormat kepada pria yang membawa tandu, lalu berkata, “Suami Nyonya Besar telah kembali, dan siap untuk bepergian bersamanya. Jadi tidak perlu lagi menitipkan perhiasannya.”

Pria yang membawa kotak perhiasan langsung menutup dan mengunci kembali kotaknya. “Maaf Tuan, kami tidak jadi menitipkannyapada Anda.” Pria itu pun berlalu dari hadapan Beeka Mull yang melongo melihatnya.

Kemudian dari tandu terdengar suara tawa, dan keluarlah seseorang yang tak lain adalah Kooshy. Ia segera berlari dan bergabung dengan Jitendra di tengah jalan dan menari-nari bersamanya. Orang-orang bertepuk tangan melihat mereka karena merasa terhibur.

Beeka Mull berdiri dan menatap mereka dengan bodoh, namun tak lama, karena ia pun langsung tertawa terbahak-bahak. Lelaki gemuk itu dia melepaskan sorbannya, lalu melompat ke jalan dan mulai menari mengikuti Jitendra dan Kooshy.

“Taun, kenapa Anda ikut menari?” tanya pria yang tadi mengusung tandu. “Orang asing itu menari karena kekayaannya telah kembali, Kooshy menari karena dia memang sedikit gila dan senang telah menipumu.”

Beeka Mull sambil terengah-engah dengan mata berair karena tertawa menjawab, “Aku tahu 13 cara berbeda untuk menipu orang dengan pura-pura percaya pada mereka. Kupikir sudah tidak ada lagi cara yang lain. Ternyata sekarang aku tahu, inilah cara yang ke-14. Itulah sebabnya aku menari!”

(TAMAT)

(Ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage