Frame 117

Suara Kecil di Panggung Besar

By Penulis N

Tara selalu menyukai musik. Di rumah, ia sering bernyanyi pelan sambil menggambar, atau bersenandung saat membantu Ibu menyiram tanaman. Tapi kalau ada orang lain mendengarnya, Tara langsung diam. Wajahnya memerah, dan hatinya berdegup seperti genderang.

“Kenapa kamu nggak mau nyanyi di depan teman-teman?” tanya Ibu suatu hari.
“Aku malu, Bu. Nanti mereka ketawa kalau suaraku jelek,” gumam Tara sambil menunduk.

Ibu tersenyum, lalu duduk di samping Tara. “Kalau kamu suka bernyanyi, kamu harus memberi kesempatan pada dirimu sendiri untuk bersuara. Orang yang berani bukan yang nggak takut, tapi yang tetap melangkah meski takut.”

Tara hanya mengangguk kecil. Tapi kata-kata Ibu itu tinggal di hatinya seperti lagu yang tak selesai.

Beberapa minggu kemudian, sekolah Tara mengumumkan lomba menyanyi dalam acara peringatan Hari Kartini. Setiap kelas boleh mengirim satu perwakilan. Teman-teman Tara langsung heboh memilih siapa yang akan tampil.

“Kita pilih Aisyah aja! Suaranya tinggi banget!” teriak Rafi.
“Tapi dia udah ikut tahun lalu. Gimana kalau Tara?” kata Lani tiba-tiba. “Aku pernah denger dia nyanyi waktu istirahat di taman. Bagus, loh!”

Tara sontak membeku. Pipinya memerah, tangannya berkeringat. Semua mata menatapnya.

“Eh, Tara bisa nyanyi?” tanya Dimas.
“Coba dong nyanyi dikit,” desak yang lain.

Tara menunduk. Suaranya tercekat. “Aku… nggak bisa.”

Sepulang sekolah, Tara mengurung diri di kamar. Ia merasa kecewa, bukan pada teman-temannya, tapi pada dirinya sendiri. Ia ingin sekali bernyanyi. Ia ingin sekali berdiri di panggung itu. Tapi rasa malu dan takut seperti tali yang menahan langkahnya.

Malam itu, Ibu duduk di samping Tara dan menyerahkan sebuah buku kecil. “Ini buku catatan waktu Ibu seumur kamu. Lihat halaman terakhirnya.”

Tara membuka halaman yang dimaksud. Ada tulisan tangan: “Hari ini aku menangis karena gagal pidato di depan kelas. Tapi besok, aku mau coba lagi. Aku nggak mau kalah oleh rasa takutku sendiri.”

Tara menoleh ke Ibu. “Ibu juga pernah takut?”
“Sering. Tapi kalau kita berhenti mencoba, rasa takut itu menang.”

Keesokan harinya, Tara datang ke sekolah lebih awal. Ia mendekati Bu Rini, wali kelasnya. “Bu, kalau masih boleh… saya ingin mencoba ikut lomba menyanyi.”

Wajah Bu Rini langsung cerah. “Wah, tentu boleh! Ibu bangga kamu berani mencoba.”

Selama dua minggu, Tara berlatih setiap sore bersama Lani dan Aisyah. Suaranya memang kecil, tapi jernih dan penuh perasaan. Mereka membantu Tara memilih lagu yang cocok, dan memberi semangat setiap kali Tara mulai ragu.

Hari lomba pun tiba. Aula sekolah ramai. Ada dekorasi kain batik, bunga kertas, dan panggung kecil dengan mikrofon di tengahnya. Tara berdiri di belakang panggung, mengenakan kebaya merah muda. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.

“Kalau takut, tarik napas pelan-pelan. Bayangin kamu lagi nyanyi sendirian di taman,” bisik Lani sambil menggenggam tangan Tara.

Ketika namanya dipanggil, Tara melangkah ke panggung. Lampu sorot terasa sangat terang. Ia bisa melihat barisan kepala teman-temannya, para guru, bahkan Ibu yang duduk di kursi paling depan.

Musik mulai diputar.

Tara memejamkan mata. Ia teringat taman belakang rumah, tempat favoritnya bernyanyi saat angin berhembus pelan. Ia menarik napas, dan mulai bernyanyi.

Suaranya kecil di awal, tapi perlahan mengalun, lembut dan penuh warna. Ia lupa sedang berada di atas panggung. Ia hanya ingin menyampaikan perasaannya lewat lagu.

Ketika lagu usai, aula sunyi beberapa detik, lalu tepuk tangan bergemuruh. Tara menunduk, tersenyum kecil. Wajahnya masih memerah, tapi kali ini bukan karena malu, melainkan karena bahagia.

Ia tak peduli apakah akan menang lomba atau tidak. Yang penting, ia sudah berani mengalahkan rasa takutnya sendiri.

Setelah turun panggung, Ibu memeluknya erat. “Suara kecilmu akhirnya terdengar di panggung besar, Nak.”

Dan Tara tahu, hari itu, ia sudah menang, bukan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri. (*)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage