Syiuuuuutttt…! Chiitttt…!
Terdengar suara sepeda di depan rumah. Gada langsung berlari ke luar rumah. Melihat ke kanan dan ke kiri. Ia mencari tahu berasal dari mana suara itu. Ah, ternyata benar, itu adalah suara sepeda Rafa. Rafa adalah teman main Gada di kompleks rumahnya. Usianya hampir sama. Namun mereka bersekolah di SD yang berbeda.
“Gadaaa! Main yooook!” ajak Rafa berteriak mengajak main.
Gada mengeluarkan sepeda birunya. Sepeda yang baru saja dibelikan ayah. Sepeda ini adalah hadiah karena Gada sudah berani dikhitan.
“Ibu, aku main sepeda sebentar di luar ya!” teriak Gada di luar rumah.
“Baik, Nak. Sebentar saja ya, gak jauh-jauh, ini sudah sore,” jawab ibu dari dapur.
Ibu sedang menyiapkan makan sore untuk ayah dan Gada yang ada di rumah.
Gada dan Rafa kemudian mulai bermain sepeda di depan rumah. Suara tawa mereka terdengar begitu keras.
“Ayo kita ngepot! Hahaha!” seru Gada sambil terdengar bunyi decitan roda yang bergesekan dengan jalan aspal.
“Ayo kejar aku!” balas Rafa.
Mereka bersepeda ke sana-ke mari seolah mereka adalah pembalap yang sedang berlomba di dalam sirkuit.
“Gada, ayo kita main ke depan rumahku! Aku haus ingin minum,” kata Rafa tiba-tiba setelah mereka lelah bermain.
Akhirnya, Gada mengikuti Rafa untuk pulang ke rumahnya. Di sana mereka beristirahat lalu meminum segelas air untuk menghilangkan dahaga di tenggorokannya.
“Seru sekali ya main sepeda. Besok lagi ya. Kita besok main ke dekat masjid yuk!” ajak Rafa.
“Ah itu terlalu jauh Rafa, kita harus menyeberang jalan raya dan itu berbahaya. Aku belum berani nih,” ucap Gada.
“Ah, cemen kamu. Gitu aja takut. Huuu….”
Saat mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Bunda Rafa memanggil Rafa sambil menggendong adiknya yang sedang menangis. “Rafa, adikmu demam dan muntah dari tadi siang. Ibu harus segera membawanya ke dokter. Rafa bisa bantu Bunda bawakan tas yang berisi perlengkapan adik?”
“Baik Bunda. Rafa siapkan. Ayo Gada bantu aku juga!” ucap Rafa.
Karena keadaan sedang darurat, Gada tidak berpikir panjang. Dia ikut masuk mobil bersama keluarga Gada. Mobil pun melaju. Gada baru menyadari bahwa dirinya semakin jauh dari rumah. Cuaca mendung, hari semakin sore, dan Gada tidak berpamitan kepada Ibu dan Ayah yang ada di rumah.
Sesampainya di klinik dokter, banyak pasien yang sudah mengantre. Di luar semakin gelap. Azan magrib mulai terdengar. Gada semakin gelisah. Ia memikirkan Ibu dan Ayah. Pasti mereka mencarinya di rumah. Antrean masih panjang. Pasti mereka akan pulang larut malam.
“Rafa, boleh aku minta tolong? Hubungi ayah atau ibuku, bilang kalau aku ikut denganmu. Pinjam HP ayahmu,” pinta Gada.
Lalu Rafa bergegas mendekati ayahnya.
“Gada, ternyata ayah dan ibuku tak membawa HP. Jadi mereka tidak bisa menelepon ayah ibumu,” kata Rafa menjelaskan.
Tak lama setelah itu, adik Rafa dipanggil untuk memasuki ruang dokter.
“Akhirnya giliran adikmu, Rafa,” kata Gada lega.
Setelah adik Rafa diperiksa oleh dokter, akhirnya Rafa dan keluarganya pulang. Begitu pula dengan Gada.
Sesampainya di rumah Rafa, Gada langsung berpamitan. Ia langsung bergegas menuju rumah sambil mengendarai sepedanya. Hari sudah gelap. Saat sudah mendekati rumah, ia melihat banyak orang yang mengerumuni rumahnya.
“Gadaaaaa…! Itu Gada!” teriak salah satu tetangganya yang sedang berkumpul.
Ibu berlari keluar rumah diikuti Ayah. Ibu menangis memeluk Gada. Gada pun spontan ikut menangis. Ia sadar orang berkumpul seramai itu pasti mengkhawatirkan dirinya. Ternyata Ibu dan Ayah mengira Gada diculik oleh orang.
“Dari mana kamu, Nak? Ibu cari ke mana-mana tidak ada. Tadi izinnya pergi sebentar kan?” tanya Ibu sambil mengusap lembut kepala Gada.
Ibu bercerita bahwa mereka sudah mencari Gada ke masjid, ke rumah Rafa dan teman-teman yang lain. Tetap saja tidak menemukan Gada. Ternyata para tetangga juga ikut menolong Ibu untuk mencari Gada.
Gada minta maaf karena terlambat pulang. Ia menceritakan apa yang terjadi. Akhirnya semu lega setelah Gada kembali. Gada merasa sedih bercampur malu. Dan dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ia menyesal telah membuat banyak orang khawatir, terutama ibunya. (*)


