Frame 117

Pesan Terakhir Ayah

By Aynoon Jameela

“Allaahu akbar, Allaahu akbar…!”

Suara azan Magrib berkumandang dari masjid di ujung jalan. Anak-anak kecil berlarian di gang sempit, membawa plastik berisi es teh dan kolak. Bau gorengan yang baru matang dari rumah-rumah warga menyatu dengan semilir angin sore.

Tapi di dalam sebuah rumah kecil di ujung gang, suasana terasa sunyi. Faris duduk di ruang tamu, bersandar di sofa dengan ponsel di tangannya. Earphone terpasang di telinganya, sementara jemarinya sibuk menggeser layar ponsel. Pandangannya fokus, tidak peduli dengan suara azan atau suara ibunya yang memanggil dari dapur.

 “Faris, ayo buka puasa dulu!” suara Ibu terdengar dari dapur.

Faris menoleh sekilas ke arah dapur. Ia menarik napas malas, lalu melepaskan earphone dari telinganya. Dengan langkah berat, ia berjalan ke meja makan. Di meja, Ayah sudah duduk, mengenakan baju koko abu-abu yang sedikit kusut. Wajah Ayah terlihat letih, tapi senyum tipis masih terukir di bibirnya.

 “Minum dulu, Faris.” Ayah menyodorkan segelas air putih.

Faris mengambil gelas itu tanpa menatap ayahnya. Ia meneguk setengah gelas, lalu meletakkannya dengan suara yang agak keras di atas meja. Ibu memperhatikan Faris dengan tatapan khawatir.

 “Faris, kamu nggak shalat Magrib dulu?” tanya Ibu pelan.

Faris menghela napas panjang. “Nanti aja.”

Ayah menatap Faris lekat-lekat. “Jangan ditunda, Nak. Ayo, kita shalat berjamaah!”

Faris memutar bola matanya. “Ayah shalat duluan aja. Aku nanti nyusul.”

Ayah terdiam sejenak, tapi kemudian tersenyum kecil. “Baiklah.”

Ayah bangkit dari kursinya dan melangkah ke kamar untuk mengambil sajadah. Faris menunduk, menatap ponselnya. Tapi dari ekor matanya, ia bisa melihat !bu masih memandangi dirinya dengan tatapan sedih.

 “Far… shalat itu kewajiban, Nak,” suara Ibu terdengar pelan.

Faris tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya, pura-pura tidak mendengar.

Beberapa hari kemudian, suasana rumah terasa berbeda malam itu. Ibu terlihat mondar-mandir di ruang tamu, menelepon seseorang dengan suara panik. Faris yang sedang tiduran di sofa menatap Ibu dengan dahi berkerut.

 “Kenapa, Bu?”

Ibu menutup telepon dan menoleh ke arah Faris dengan wajah pucat. “Ayah kamu… jatuh di masjid.”

Faris langsung terduduk. “Apa?! Sekarang Ayah di mana?”

 “Tetangga sudah membawanya ke rumah sakit. Ini Ibu mau menyusul ke rumah sakit bersama Pak Hadi,” jawab Ibu dengan raut cemas.

Di depan rumah terdengar suara mobil berhenti. Tanpa berpikir panjang, Faris langsung mengintip ke luar rumah. Di depan pagar, ia melihat Pak Hadi, tetangga sebelah, sudah siap dengan mobilnya.

 “Bu, aku ikut ke rumah sakit!” kata Faris sambil mengikuti Ibu yang tampak terburu-buru.

“Ayo cepat!” Ibu mengangguk.

Mereka langsung naik ke mobil Pak Hadi. Hati Faris berdebar kencang.

 Setibanya di rumah sakit, mereka langsung berlari ke ruang UGD. Ibu terlihat menyusut air mata, khawatir dengan keadaan Ayah. Faris jadi bertambah cemas. 

Dokter keluar dari ruangan dengan wajah serius. “Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, tapi takdir berkehendak lain…”

Dunia Faris terasa berhenti berputar. “J-jadi… Ayah…?”

 Ibu mendekap Faris, “Ayahmu sudah tiada, Nak.”

Faris membeku. Ia menatap dokter dengan tatapan kosong. Kakinya terasa lemas.

 “T-tidak mungkin… Ayah… Ayah belum tua… Ayah… Ayah masih sehat…!” Faris belum siap kehilangan Ayah.

Ibu terisak keras, lalu mengajak Faris memasuki dalam ruang UGD. Tampak Ayah terbaring di atas tempat tidur, dengan wajah yang damai. Tubuhnya sudah ditutupi kain putih hingga sebatas dada.

Faris berdiri di samping tempat tidur. Tangannya bergetar saat menyentuh tangan ayahnya yang dingin. Air mata mulai mengalir deras di pipinya.

 “Ayah… Ayah bangun…! Jangan tinggalin aku, Yah…!” isaknya sedih.

Tidak ada jawaban. Hanya sunyi yang menjawab.

***

Setelah pemakaman, Faris rebahan di kamarnya, menatap kosong ke lantai. Hatinya terasa hampa. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa Ayah akan pergi secepat ini. Ayah yang sangat baik, penyabar, rajin beribadah dan selalu mengingatkan Faris untuk shalat dan mengaji tanpa bersura tinggi.

Tiba-tiba Ibu masuk ke kamarnya, membawa sebuah tas hitam kecil. “Far… ini tas milik Ayah. Coba lihat, mungkin ada barang penting di dalamnya.”

Faris mengambil tas itu dengan tangan gemetar. Perlahan, ia membuka resletingnya. Di dalamnya, ada dompet, handphone tua, dan sebuah mushaf Quran.

Faris mengambil mushaf itu dengan hati-hati. Sampulnya sudah lusuh, dan beberapa halamannya terlihat kusut. Ketika membuka halaman tengah, sebuah kertas kecil terselip di sana. Faris mengernyit bingung, lalu membuka lipatan kertas itu. Tulisan tangan Ayah yang rapi.

Ya Allah, jadikanlah anakku, Faris, seorang anak yang saleh. Bukakan hatinya untuk mencintai-Mu dan taat menjalankan perintah-Mu. Jadikan ia pemimpin yang baik, yang tidak lalai dalam shalat dan berbakti kepada orang tua. Aamiin.

Tangan Faris bergetar. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan.

 “Ayah…,” bisiknya pelan.

Tangannya menempel di mushaf itu, dan Faris mulai terisak. “Ya Allah, bahkan di setiap waktu, Ayah selalu mendoakan aku…”

Faris menarik napas panjang. Suara azan Isya berkumandang dari masjid di ujung gang. Biasanya, ia akan mengabaikan suara itu dan asyik dengan ponselnya, tapi kali ini berbeda. Faris bangkit, mengambil sajadah dari lemari, lalu melangkah keluar kamar.

Di ruang tengah, Ibu menatap Faris dengan heran. “Far… mau ke mana?”

Faris menoleh, matanya yang masih basah kini terlihat lebih tegas. “Aku mau ke masjid, Bu.” Lalu Faris melangkah ke luar.

Ibu terdiam. Air mata mulai jatuh di pipinya. Tapi kali ini air mata haru.

Faris mengenakan peci ayahnya, lalu melangkah ke luar rumah. Angin malam bulan Ramadhan menyentuh wajahnya dengan lembut. Di kejauhan, masjid kampung sudah dipenuhi jamaah yang sedang bersiap untuk shalat.

Faris menarik napas panjang. Ia tahu, ini baru awal. Tapi kali ini, ia merasa siap untuk melangkah di jalan yang benar, jalan yang selalu didoakan oleh ayahnya. Dan malam itu, di bawah cahaya rembulan Ramadhan, Faris tahu, bahwa pesan terakhir ayahnya bukan sekadar doa, tapi petunjuk yang akan mengubah hidupnya.

Faris melangkah perlahan menuju masjid. Di tangannya, ia menggenggam mushaf kecil milik Ayah dengan erat. Hatinya masih terasa berat, tapi di sela-sela rasa kehilangan itu, tumbuh tekad baru yang mulai menguat.

Sesampainya di masjid, ia duduk di barisan belakang, mendengarkan imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya merdu dan tenang, membuat hati Faris terasa hangat. Untuk pertama kalinya, Faris mendengarkan bacaan itu dengan penuh perhatian, seolah setiap kata adalah jawaban atas kesedihan hatinya.

Beberapa anak sebaya Faris yang juga tinggal di lingkungan itu menoleh ke arahnya. Salah satunya Arfan, yang mendekati dan tersenyum sambil berbisik pelan, “Far, kok tumben ikut shalat?”

Faris tersenyum kecil, ada rasa malu di hatinya namun dengan jujur ia menjawab, “Aku mau jadi lebih baik seperti harapan ayahku.”

Arfan mengangguk, ia tahu Faris baru kehilangan ayahnya. “Ayo, semangat, Far. Kalau mau, habis tarawih kita bisa ngaji bareng di rumah Ustaz Hadi.”

Faris terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Boleh. Makasih ya, Fan. Tapi nanti aku bilang Ibu dulu ya, biar nggak dicariin.”

Seusai tarawih, Faris pulang ke rumah. Ibu masih duduk di ruang tamu, memegang tasbih milik Ayah. Beliau memeluk peci itu erat, lalu menatap Faris yang baru masuk.

“Bu,” kata Faris sambil mendekat. “Boleh nggak aku ikut ngaji di rumah Ustaz Hadi bareng Arfan?”

Ibu tersenyum haru, lalu mengangguk sambil memeluk Faris erat. “Tentu saja,, Nak, Ibu malah senang sekali.”

Faris membalas pelukan itu. Di dalam hatinya ia tahu, meski Ayah sudah tiada, pesan terakhirnya akan selalu ia ingat dengan baik, menjadi cahaya kecil yang menuntun langkahnya. (Tamat)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage