Di sebuah hutan lebat yang penuh dengan pepohonan tinggi dan sungai yang jernih, hiduplah berbagai macam hewan. Ada harimau, burung merak, monyet, rusa, dan tentu saja si Kancil yang terkenal cerdik.
Kancil adalah hewan kecil yang suka menolong. Meski tubuhnya kecil, kepalanya penuh ide dan akal. Setiap hewan yang punya masalah sering datang kepadanya untuk meminta saran. Namun, karena Kancil kecil dan lincah, beberapa hewan besar suka meremehkannya.
Suatu hari, seekor gajah kecil datang ke hutan itu. Namanya Gani. Ia baru pindah bersama ibunya dari hutan seberang, karena hutan mereka ditebang manusia. Gani masih muda, telinganya lebar, matanya bulat penuh rasa ingin tahu, dan belalainya sering bergerak-gerak karena penasaran.
Namun, karena tubuhnya besar, Gani merasa sulit berteman. Setiap kali ia bermain, tanpa sengaja ia merusak sesuatu. Ketika bermain petak umpet, ia menginjak semak tempat burung kecil bersarang. Saat bermain lompat tali dengan monyet, pohonnya roboh. Semua hewan mulai menjauh.
“Maaf ya, Gani, kamu terlalu besar. Kita takut kamu akan membuat kerusakan lagi,” kata seekor kelinci kecil sambil berlari menjauh.
Gani merasa sedih dan duduk di pinggir sungai. Ia menatap bayangannya di air.
“Kenapa aku harus sebesar ini? Aku cuma ingin punya teman,” gumamnya pelan.
Kancil yang sedang mencari buah-buahan mendengar suara itu. Ia pun menghampiri.
“Hai, kamu Gani, kan? Gajah kecil yang baru pindah ke hutan ini?”
Gani mengangguk pelan. “Iya, tapi aku tidak punya teman. Semua takut padaku karena aku besar dan ceroboh.”
Kancil tersenyum. “Ukuran tubuh tidak menentukan siapa kamu. Mungkin, yang besar bisa jadi pelindung bagi yang kecil.”
Gani menatap Kancil heran. “Benarkah? Tapi mereka semua menghindariku.”
Kancil duduk di samping Gani. “Bagaimana kalau kita berteman dulu? Aku yakin, nanti mereka juga mau berteman dengan kamu, kalau kamu punya hati yang baik.”
Sejak hari itu, Kancil dan Gani sering bermain bersama. Kancil mengajarkan Gani cara berjalan pelan agar tidak merusak sekitar, dan Gani mengajarkan Kancil cara memetik buah dari pohon tinggi dengan belalainya.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, terdengar suara gaduh dari bagian utara hutan. Rupanya, seekor harimau besar masuk ke wilayah mereka. Harimau itu bukan penduduk hutan tersebut. Ia lapar dan mencari mangsa.
Hewan-hewan panik dan berlari menyelamatkan diri. Burung-burung beterbangan, monyet melompat ke pohon tertinggi, dan rusa berlari secepat mungkin.
Kancil yang kecil berusaha mencari tempat bersembunyi, tapi ia tertinggal dari yang lain. Harimau melihatnya.
“Hmm… makanan kecil yang lezat!” kata Harimau sambil mendekat.
Kancil berlari, tapi kakinya terperosok ke dalam lubang tanah. Ia tidak bisa bergerak. Harimau semakin dekat, menjilat bibirnya.
“Sudah tidak bisa lari lagi, ya? Hahaha!” tawa Harimau.
Namun tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dari belakang pepohonan.
Duuum! Duum! Duuummm!
Gani datang! Ia berlari kencang dan berdiri di antara Harimau dan Kancil.
“Jangan sakiti temanku!” teriak Gani, matanya tajam.
Harimau tertawa. “Kau masih kecil, Gajah! Menyingkir sebelum aku memakan kalian berdua!”
Tapi Gani tidak takut. Ia mengangkat belalainya tinggi-tinggi dan mengeluarkan suara keras.
“Truuuuuu…!!”
Suara yang mirip terompet itu menggema ke seluruh hutan. Harimau kaget, tidak menyangka gajah kecil bisa sebegitu gagah. Gani menginjak tanah dengan keras hingga bumi bergetar. Pohon-pohon bergoyang. Debu mengepul.
Harimau merasa gentar. Ia melirik sekeliling, takut kalau ada gajah besar datang. Akhirnya, ia mundur perlahan, lalu lari tunggang langgang.
Gani segera menolong Kancil keluar dari lubang.
“Kau baik-baik saja?” tanya Gani cemas.
Kancil tersenyum. “Terima kasih, Gani. Kau menyelamatkanku.”
Besoknya, semua hewan mendengar keberanian Gani. Mereka berbondong-bondong datang menghampirinya.
“Gani, kamu hebat!” kata Monyet.
“Maaf ya, kami tidak akan menjauhimu lagi,” tambah Kelinci.
Sejak itu, Gani punya banyak teman. Ia menjadi penjaga hutan kecil mereka. Kalau ada bahaya, ia selalu siap menolong. Dan Kancil? Ia tetap menjadi sahabat sejati Gani. (*)


