Nabi Idris ‘alaihissalam adalah nabi kedua setelah Nabi Adam ‘alaihissalam. Beliau menerima suhuf sebanyak 30 lembar. Suhuf adalah lembaran kitab suci yang isinya berupa pedoman dan ajaran untuk disampaikan kepada kaumnya.
Kaum Nabi Idris disebut Bani Qabil. Kaum tersebut merupakan keturunan dari Qabil, putra pertama Nabi Adam yang lahir dengan kembaran perempuannya bernama Iqlima. Bani Qabil ini tidak lagi menyembah Allah, karena mereka menyembah api.
Nabi Idris sangat gigih dalam memperjuangkan agama tauhid yang hanya menyembah Allah. Beliau selalu berdakwah kepada kaumnya dengan penuh kesabaran.
Dalam perjalanan dakwahnya. Nabi Idris senantiasa mengalami berbagai rintangan. Beliau sering mendapatkan celaan dan penentangan, namun kesabarannya membuat Nabi Idris selalu dalam rahmat Allah.
Allah memuji kesabarannya dalam kitab suci Al-Quran.
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al-Anbiya:85-86)
Beliau diutus oleh Allah untuk berdakwah ke wilayah Irak kuno. Karena kaum di sana tidak mau menerima ajakan Nabi Idris untuk menyembah Allah, maka Nabi Idris diutus berdakwah ke Mesir. Nabi Idris pernah mengajak umatnya untuk berhijrah ke Mesir yaitu ke kota Memphis.
Pada awalnya, umat Nabi Idris menolak ajakan tersebut, mereka mengeluh karena Mesir merupakan negeri yang tandus. Namun setelah diyakinkan oleh Nabi Idris akhirnya mereka pun mau berhijrah.
Nabi Idris adalah manusia yang cerdas, beliau adalah orang pertama yang pandai membaca dan menulis dengan pena atau biasa disebut kalam. Beliau juga bisa menguasai berbagai bahasa. Allah pun menganugerahi Nabi Idris dengan kepandaian naik kuda serta cara beternak.
Nabi Idris juga menguasai berbagai ilmu, seperti ilmu perbintangan, matematika, ilmu arsitektur, hingga ilmu alam. Selain itu, Nabi Idris juga dikenal sebagai orang pertama yang menjahit pakaian. Beliau mampu untuk membuat kain, merancang, menggunting, hingga menjahit menjadi pakaian. Pada saat itu, manusia masih menggunakan kulit hewan sebagai penutup auratnya.
Nabi Idris sangat rendah hati, jauh dari sifat sombong dan sangat mencintai kebenaran. Hatinya dipenuhi dengan kebaikan dan kemuliaan. Kecerdasan, kepandaian, kegigihan, serta kecintaan terhadap kebenaran Nabi Idris digambarkan dalam Al-Quran.
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Idris di dalam kitab (Al-Quran). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (QS. Maryam: 56-67)
Walaupun dirinya seorang nabi dan rasul di sisi Allah, Nabi Idris senantiasa rajin beribadah, berdoa, selalu sabar, serta menghormati sesama. Beliau selalu tertunduk, sujud, bahkan bisa menangis apabila mendengar atau dibacakan ayat-ayat Allah SWT kepadanya.
Selain cerdas dan pandai, Nabi Idris dikenal punya keberanian yang tinggi. Beliau sering mencapai kemenangan di peperangan dan bahkan tak takut akan kematian. Oleh sebab itu, Nabi Idris diberi gelar asadul asad yang berarti singa dari segala singa.
Suatu ketika, Nabi Idris kedatangan tamu yang bermalam di rumahnya. Setelah empat hari, Nabi Idris heran karena tamunya tidak pernah makan. Maka ia pun bertanya, siapa sebenarnya tamu itu.
Akhirnya tamu tersebut mengaku bahwa ia adalah Malaikat Izrail. Nabi Idris terkejut dan bertanya apa maksud kedatangannya. Malaikat Izrail menjelaskan bahwa ia sangat mengagumi Nabi Idris karena kesalehannya dan ingin melihat kesehariannya.
Nabi Idris jadi penasaran bagaimana rasanya mati. Ia pun meminta Malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya. Setelah mendapat izin dari Allah maka Malaikat Izrail pun mencabut nyawa Nabi Idris dengan sangat lembut. Lalu kemudian Allah menghidupkannya kembali. Nabi Idris menangis karena membayangkan bagaimana manusia lain dicabut nyawanya dengan kasar, sedangkan ia sendiri merasakan sakit yang luar biasa saat nyawanya dicabut dengan sangat lembut.
Pengalaman itu membuatnya semakin bersemangat beribadah kepada Allah. Nabi Idris kemudian teringat keinginannya yang lain, yaitu melihat surga dan neraka. Ia pun minta dibawa melihat surga dan neraka.
Malaikat Izrail meminta izin kepada Allah dan Allah pun mengizinkan. Maka Malaikat Izrail membawa Nabi Idris di punggungnya, di antara dua sayapnya.
Akhirnya Nabi Idris pun bisa melihat neraka dan surga yang membuatnya nyaris pingsan saking dahsyatnya siksa neraka dan saking indahnya surga.
Setelah itu Nabi Idris enggan untuk kembali ke dunia. Ia meminta Malaikat Izrail memohonkan izin kepada Allah untuk tinggal di sana sampai hari kiamat tiba.
“Aku kan sudah pernah mati, jadi aku tidak perlu kembali lagi ke dunia,” begitu alasannya kepada Malikat Izrail.
Malaikat Izrail menyampaikan permohonan Nabi Idris itu kepada Allah dan Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Idris tersebut dan ia disuruh menempati langit keempat. Kelak di langit keempat inilah Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Idris pada saat beliau Isra’ Mi’raj. (*)
(Ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah)


