Nabi Adam adalah manusia pertama sekaligus nabi pertama yang diutus Allah ke dunia. Nabi Adam diciptakan Allah dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh permukaan dan unsur tanah. Jadi dari sinilah kelak anak-anak Nabi Adam berasal. Masing-masing akan membawa unsur tanah asal mereka diciptakan. Di antara mereka ada yang berkulit putih, hitam, cokelat dan sebagainya sesuai warna asal tanahnya.
Setelah Nabi Adam diciptakan, Allah memerintahkan semua makhluk yang ada di surga untuk bersujud kepada Nabi Adam. Semua mematuhinya terkecuali iblis, sebab iblis merasa bahwa ia lebih mulia daripada Nabi Adam.
Iblis juga merasa iri karena Nabi Adam diberi pengetahuan tentang berbagai hal padahal ia baru saja diciptakan. Inilah sifat makhluk yang sombong, sifat yang sangat dibenci oleh Allah.
Akibat ketidakpatuhannya itu, iblis pun dilaknat Allah sampai hari kiamat. Sebagai bentuk dendamnya kepada Nabi Adam, iblis bersumpah akan menyesatkan Nabi Adam dan keturunannya hingga hari kiamat kelak.
Nabi Adam yang merasa kesepian, akhirnya mendapat teman atau pasangan bernama Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Bersama Hawa, Nabi Adam menjalani kehidupan yang bahagia di surga. Mereka berdua mendapat berbagai kenikmatan yang telah disediakan oleh Allah.
Mereka bebas menikmati semua yang ada di surga kecuali satu saja yang dilarang Allah. Larangan Allah kepada Nabi Adam dan Siti Hawa adalah memakan buah dari pohon khuldi.
Allah berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah berbagai makanan dengan nikmat yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, maka kamu akan termasuk ke dalam golongan orang yang dzalim!” (Al-Baqarah: 35)
Sesuai sumpahnya, iblis pun menggoda Nabi Adam dan Hawa agar dikeluarkan dari surga seperti dirinya. Iblis berkata, “Wahai Adam, sesungguhnya Allah melarang mendekati dan memakan buah dari pohon itu karena akan membuat engkau kekal di dalam surga.”
Mendengar perkataan iblis, Hawa pun tergoda. Ia lalu membujuk Adam agar memetik dan mencoba buah khuldi tersebut. Adam luluh dan ikut tergoda, hingga ia pun memetik dan memakan buah khuldi bersama istrinya Hawa.
Setelah memakan buah tersebut, Nabi Adam dan Hawa mendapati pakaian surga yang mereka pakai lenyap hingga terlihatlah aurat mereka. Dengan perasaan terkejut dan malu yang luar biasa, Nabi Adam dan Hawa pun mengambil daun-daunan untuk menutupi tubuh mereka. Mereka kini menyadari kesalahan besar yang sudah dilakukan.
Akibat pelanggaran larangan tersebut, Allah pun menghukum dengan mengeluarkan Nabi Adam dan Hawa dari surga. Iblis yang menyaksikan kejadian tersebut tertawa senang karena godaannya berhasil menjerumuskan Nabi Adam.
Nabi Adam dan Hawa bersimpuh minta ampun di hadapan Allah, menyesali perbuatan mereka. Allah yang Maha Pengampun memberi ampunan namun Allah tetap menghukum dengan mengusir mereka dari surga. Mereka harus melanjutkan tujuan penciptaannya yaitu menjadi khalifah di muka bumi.
Allah SWT berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu akan menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu terdapat tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditetapkan.” (Al Baqarah: 36)
Nabi Adam dikeluarkan dari surga, dengan memisahkan tempat turun mereka yang saling berjauhan. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah. Adam pun mencari Hawa hingga tiba di Jama’, lalu Hawa didekatkan kepadanya, karena itulah dinamakan Muzdalifah yang artinya berkumpul atau bertemu.
Ada juga riwayat mengatakan Nabi Adam dan Hawa bertemu di Jabbal Rahmah, sebuah bukit yang terletak di Arafah. Keduanya mungkin saja benar karena jarak antara Arafah dan Muzdalifah berdekatan dan sebagaimana kita ketahui secara fisik Nabi Adam sangat besar dan usianya juga sangat panjang.
Mereka begitu terharu dan bahagia bisa bertemu kembali setelah terpisah selama 200 tahun. Selama 200 tahun itu Nabi Adam dan Hawa tetap meminta ampun kepada Allah. Hingga akhirnya setelah 300 tahun sejak terusir dari surga, Allah pun mengampuni mereka.
Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat-Mu, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. (Al-A’raf: 23)
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Qs Al Baqarah 43).
Allah SWT menerima taubat Nabi Adam dan melimpahkan rahmat kepadanya. Karena Allah Dzat yang Maha Penyayang dan memberi ampunan kepada orang yang bertaubat dari kesalahannya.
Nabi Adam dan Hawa kemudian memiliki keturunan yang berjumlah 40 pasang anak, di mana setiap kelahirannya selalu laki-laki dan perempuan. Mereka dilarang menikah dengan kembarannya, tapi harus dengan kembaran yang lain.
Nabi Adam berusia sekitar 930 tahun. Menurut keterangan Ibnu Asakir dari berbagai sumber Nabi Adam dimakamkan di Al Quds. Ibnu Asakir menyebutkan bahwa kepala nabi Adam di Masjid Ibrahim. Sementara kedua kakinya di lembah Baitul Maqdis.
Menurut riwayat Ibnu Jarir, sebelum terjadi badai topan dan banjir yang sangat dahsyat pada zaman Nabi Nuh, beliau memindahkan jasad Nabi Adam dan Hawa dalam sebuah peti. Selanjutnya, jenazah keduanya dimakamkan di Baitul Maqdis. (Tamat)
(Ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah)


