Pagi hari yang cerah Ero berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya sambil menggendong tas yang menampilkan gambar ikonik perisai Captain Amerika. Sejak pertama kali Ero menonton animasi Avengers, hatinya langsung tertuju pada pahlawan super berkostum motif bendera Amerika Serikat tersebut.
Suatu hari nanti, aku ingin seperti pahlawan idolaku yang dapat menyelamatkan dunia dan melawan orang jahat, batinnya.
“Ero, tolong hapus tulisan yang ada di papan tulis dong! Tulisannya ketinggian, aku gak sampai,” pinta Mina.
Ero segera mendekati papan tulis dan menghapus tulisan yang ada.
“Wah, wah, wah, temen kita ini emang baik hati sekali,” kata Tama yang sedari tadi melihat dari kejauhan.
“Dia kan mau jadi pahlawan sejati seperti idolanya, makanya suka tolong menolong,” sahut Caca.
Jiro yang sedari tadi mendengar, hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
“Pasti dong! Eh iya, nanti sepulang sekolah kita main di lapangan biasa ya!”
“Oke!” eeru Tama, Caca, dan Jiro kompak.
Siangnya, Ero tiba lebih dulu di lapangan, sebagai pahlawan sejati dia tidak boleh datang terlambat. Tak lama kemudian teman-temannya yang lain pun datang.
“Hari ini kita mau main apa?” tanya Caca.
“Kita akan bermain peran, aku akan jadi superhero Captain Amerika!” jawab Ero bersemangat.
“Kalau gitu aku jadi Spiderman!” seru Tama.
“Aku jadi Hulk!” Jiro ikut berseru.
“Kalau aku, tentu saja jadi wonder woman!” kata Caca tak kalah antusias.
Mendengar teman-temannya bersemangat menjadi pahlawan juga, Ero merasa tidak senang.
“Engak gitu cara mainnya, Tama sama Jiro jadi penjahat, Caca jadi orang lemah yang dilindungi, nah aku jadi satu-satunya pahlawan,” jelas Ero dengan tegas.
“Kenapa aku harus jadi orang lemah?” protes Caca tak terima.
“Laki-laki kan lebih kuat, Ca, perempuan itu harusnya yang dilindungi!” kata Ero dengan sedikit kesal.
“Jadi maksud kamu perempuan itu lemah? dengan adanya superhero wonder woman aja bukti kalau perempuan itu bisa jadi kuat! Bu guru juga pernah bilangkan kalau kita punya Ibu Kartini, Cut Nyak Dien, Rasuna Said dan lainnya, sebagai pahlawan wanita Indonesia,” jelas Caca ikut kesal.
“Pokoknya kamu nggak bisa jadi pahlawan!” seru Ero dengan nada tinggi.
Mendengar bentakan Ero, mata Caca berkaca-kaca. Melihat hal itu raut wajah Ero berubah menjadi rasa bersalah.
“Ero, kamu kok ngomong gitu sih? Pahlawan kan nggak hanya melindungi dunia tapi juga harus melindungi hati orang lain,” kata Tama ikut kecewa.
“Kalau kamu egois kayak gitu, mending kita pergi aja, kamu main aja sendiri!” seru Jiro.
Mereka pun berjalan menjauhi Ero yang semakin menunjukkan rasa sedih namun, tiba-tiba terdengar suara wanita terjatuh. Ternyata tak jauh dari mereka berdiri, Bu Nina yang merupakan ibu guru mereka terselandung dan plastik berisikan apel yang dibawanya jatuh berserakan.
Melihat hal itu, Ero, Tama, Caca, dan Jiro berlari mendekati Bu Nina dan membantunya mengumpulkan apel-apel berserakan.
“Terima kasih ya anak-anak ibu yang baik, eh Caca kenapa?” Tanya Bu Nina khawatir karena melihat sisa-sisa air mata di wajah Caca.
“Tadi kita kan mau bermain peran tapi Ero nggak ngebolehin aku jadi pahlawan, katanya perempuan itu lemah,” adu Caca sedih pada Bu Nina.
Bu Nina mendekati Ero yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Ero, anak ibu yang baik hati. Semua orang baik itu laki-laki ataupun perempuan bisa menjadi pahlawan dengan caranya masing-masing. Kekuatan sekecil apa pun jika semuanya bersatu akan menjadi kekuatan yang besar. Seperti tadi kalian menolong Ibu mengumpulkan apel, semakin banyak tangan yang terlibat semakin cepat apel-apel tersebut terkumpul,” jelas Bu Nina sambil mengelus kepala Ero.
“Tama, Caca, Jiro, maaf ya tadi aku sempet egois. Aku sadar ternyata pahlawan sejati itu nggak hanya bergantung pada kekuatan sendiri. Justru berkat kerja sama kayak tadi, kita jadi semakin kuat,” kata Ero dengan perasaan sedih sekaligus bersalah.
Mendengar permintaan maaf tulus Ero, teman-temannya pun memaafkannya. Mereka kembali akur dan melanjutkan permainan yang tertunda, kali ini semuanya bisa menjadi pahlawan. (Tamat)
Tia Permata Sari, perempuan kelahiran 2004 ini tinggal di Cilegon, Banten. Ia merupakan mahasiswa aktif Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Dan Menyukai dunia sastra sejak di bangku Sekolah Dasar.


