Frame 117

Mengajari Kuda Bernyanyi

By Redaksi

Suatu hari Nasruddin Hoja berada di ibu kota. Ia mengobrol dan bercanda dengan orang-orang di sana. Salah satu yang jadi bahan leluconnya adalah Sultan Harun Al-Rasyid. Sultan pun merasa tersinggung dengan lelucon Nasruddin tersebut. Sultan lalu memerintahkan untuk menangkap Nasruddin Hoja dan memenjarakannya.

Nasruddin Hoja meminta maaf kepada Sultan atas leluconnya. Namun Sultan tetap tidak terima. Ia bahkan menjatuhkan hukuman penggal untuk Nasruddin Hoja.

“Besok lakukan eksekusi untuknya!” perintah Sultan kepada para suruhannya.

Keesokan harinya, saat Nasruddin Hoja dibawa keluar dari penjara, ia berkata kepada Sultan, “Wahai, Sultan, hiduplah selamanya!  Engkau tahu aku sebagai guru yang terampil dan terhebat di kerajaanmu. Jika Engkau mau menunda hukumanku selama satu tahun, aku akan mengajari kuda kesayanganmu bernyanyi.”

Sultan tidak yakin bahwa hal itu bisa dilakukan Nasruddin, tetapi kemarahannya mulai mereda dan dia terhibur oleh keberanian Nasruddin.

“Baiklah,” jawab Sultan, “Kamu akan memilikiwaktu satu tahun. Tetapi jika pada akhir tahun itu kamu belum bisa mengajari kuda kesayanganku bernyanyi, maka kamu akan dipenggal.”

Malam itu, teman-teman Nasruddin diizinkan mengunjunginya di penjara, dan melihatnya dalam keadaan bersemangat. Itu diluar dugaan mereka.

“Bagaimana kamu bisa begitu bahagia?” tanya mereka. “Apakah kamu benar-benar percaya bahwa kamu bisa mengajari kuda Sultan bernyanyi?”

“Tentu saja tidak,” jawab Nasrudin, “tetapi saya sekarang memiliki waktu satu tahun yang tidak saya miliki kemarin. Banyak yang bisa terjadi dalam waktu satu tahun itu.”

Teman-temannya mendengarkan dengan serius.

“Sultan mungkin akan bertobat dari kemarahannya, dan membebaskan saya. Dia mungkin juga mati dalam pertempuran atau sakit, dan merupakan tradisi bagi seorang penerus untuk mengampuni semua tahanan saat menjabat. Dia mungkin digulingkan oleh faksi lain, dan sekali lagi, adalah tradisi bagi tahanan untuk dibebaskan pada saat itu. Atau kudanya bisa mati, dan Sultan wajib membebaskanku.”

Teman-temannya kagum atas pemikiran Nasruddin yang jeli dan cerdas.

“Bahkan,” kata Nasrrudin, “jika tidak ada yang terjadi, mungkin kuda itu malah bisa bernyanyi.”

Teman-temannya tertawa geli mendengarkan kalimat penutup itu. (TAMAT)

 

(Ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah)

 

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage