“Prat… prot… prat… prot…”
Bunyi ini mengeluarkan bau yang tidak sedap. Oyet, seekor monyet, berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutan, ia hendak mengunjungi temannya, Musa. Musa adalah seekor musang yang menjadi sahabat setia Oyet. Sepanjang perjalanan ia menemui banyak teman-teman yang lain. Mereka menutup hidungnya dengan tangan, dedaunan, dan bahkan ada yang pergi menjauh.
Oyet menyapa mereka, “Hai kelinci! Sedang menanam wortel ya?”
“Tentu saja, seperti yang kamu lihat,” jawab kelinci sambil menutup hidungnya dengan tangan.
Oyet mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan. Bunyi itu terdengar terus sepanjang perjalanan.
“Prat… prot… prat… prot…”
Tiba-tiba gajah mendekati.
“Oyet, kentutmu bau!” celetuk gajah sembari menutup belalainya dengan dedaunan.
“Benarkah?” Oyet terkejut mendengar komentar gajah. Apakah itu sebabnya semua hewan menjauh dan menutup hidung saat bertemu tadi? Oyet meminta maaf dan segera berlari cepat menuju rumah Musa.
Sesampainya di rumah Musa, Oyet dengan sedih dan malu menceritakan apa yang ia alami. Ia tidak tahu bagaimana menghentikan gejala kentut yang dihadapinya. Musa yang merasa kasihan pada temannya itu hanya bisa mengatakan bahwa kentut itu memang harus dibuang keluar, kalau tidak maka akan menimbulkan penyakit.
“Tapi ini sudah sangat berlebihan Musa!” ujar Oyet sambil mulai menangis.
“Ohh! Aku tahu!” seru Musa sambil meletakkan jari telunjuknya di dahi.
Musa masuk kembali ke dalam kamarnya, ia hendak mengambil sesuatu. “Ini adalah buku ramuan obat yang ditulis oleh pamanku, dia berprofesi sebagai tabib. Kita cari apakah ada cara untuk menyembuhkan gejala kentut yang berlebihan.”
Mereka pun membuka lembar per lembar buku, membaca tiap judul ramuan dan menemukannya. Namun sayangnya sebagian kertas ramuan itu robek dimakan rayap.
Tidak kehabisan akal, Musa mengajak Oyet untuk mengunjungi rumah paman Kuku yang ada di desa sebelah. “Pulanglah, besok pagi kita berangkat bersama,” kata Musa, “Jangan lupa untuk membawa bekal yang cukup, seperti air minum, roti, dan buah-buahan.”
Oyet pun mengangguk dan segera pulang ke rumahnya.
Bunyi kentut dengan bau yang tidak sedap mengiringi perjalanan Oyet pulang ke rumahnya. Ia berharap, rencana ini akan berhasil dan Oyet dapat berjalan-jalan dengan leluasa tanpa memikirkan bunyi kentut dan bau kentut lagi.
***
“Hai Musa! Aku sudah siap nih!” kata Oyet dengan semangat, begitu sampai di rumah Musa.
“Baguslah, ayo kita berangkat!” kata Musa.
Dengan semangat yang luar biasa mereka pun berangkat.
“Prot… prot… prot… prot…”
Bunyi kentut mengiringi perjalanan mereka. Untuk mengantisipasi bau kentut Oyet, Musa memakai kain penutup hidung yang dijahitnya sendiri.
Matahari bersinar sangat terik. Mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang. Mereka duduk dan berbaring sembari sesekali memakan bekalnya masing-masing.
Tiba-tiba, pohon tersebut berbicara “Hai! Kalian hendak pergi ke mana?” tanya pohon. Musa dan Oyet merasa sangat terkejut.
“Kami ingin ke desa sebelah untuk menemui paman kami,” jelas Musa.
Pohon rindang menjelaskan bahwa perjalanan ke desa sebelah sangat berbahaya karena ada harimau yang sedang kelaparan.
“Auuummm…!” suara harimau terdengar hingga ke tempat mereka istirahat.
Oyet ketakutan dan meminta Musa untuk tidak melanjutkan perjalanan, tapi jika tidak dilanjutkan, Oyet tidak akan sembuh. Musa meyakinkan Oyet bahwa ini akan baik-baik saja. Mereka mengucapkan terima kasih kepada pohon rindang atas informasi dan teduhannya. Mereka pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
“Aku harap kalian baik-baik saja, selamat jalan!” seru pohon rindang sambil menggerakkan rantingnya.
Suara auman itu terdengar sangat dekat. Mereka mengendap-endap, mengintip di mana posisi tepat si harimau berada. Sesaat suasana menjadi hening.
“Aku rasa harimau itu sudah pergi. Jadi kita bisa melanjutkan perjalanan dengan aman,” kata Musa kepada Oyet dengan percaya diri. Mereka tidak menyadari bahwa di balik dedaunan lebat, harimau sedang mengawasi.
“Ekhemmm, hendak ke mana saudara?” tanya harimau sambil berjalan keluar dari tempat pengintaiannya.
“Ka… ka… mi… kami hendak ke desa sebelah,” jawab Oyet dengan perasaan ketakutan.
“Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar?” pinta harimau.
“Kami tidak punya banyak waktu, harimau. Kami harus segera ke desa sebelah,” tegas Musa.
Harimau tertawa terbahak-bahak hingga terlihat gigi taringnya. Ia mengambil ancang-ancang ingin menerkam mereka. Oyet segera menghindar naik ke atas pohon sedangkan Musa berlari ke dalam semak.
“Bersembunyi di sini rupanya kau!” Tanpa disadari harimau sudah menemukan Musa yang bersembunyi di balik semak lebat dan berhasil menangkapnya.
Oyet ketakutan, ia memikirkan cara untuk menyelamatkan Musa.
“Aha!” seru Oyet. Ia lalu memakan buah mangga perbekalannya dengan lahap, dan tak lama…
“Prat.. prot… prat… prot…” Bunyi kentut Oyet beruntun disertai bau yang tidak sedap.
Harimau yang sejak tadi mencengkram Musa mendadak melonggarkan cengkramannya.
“Bau sekali kentut ini!” teriak harimau. Ia tidak tahan dengan bau kentut Oyet dan langsung menutup hidungnya. Musa pun melepaskan diri.
Harimau dengan kesal pergi menjauh. Musa yang dari tadi memakai kain menutup hidung merasa aman dari bau tidak sedap tersebut. Mereka tertawa bersama melihat harimau yang harus merasakan bau kentutnya Oyet. Mereka pun terbebas dari ancaman harimau lapar dan melanjutkan perjalanan.
Tidak terasa mereka akhirnya sampai di perkampungan tempat paman Musa tinggal.
“Itu rumah Paman Kuku!” seru Musa kegirangan.
Setelah memperkenalkan Oyet pada Paman Kuku, Musa lalu menceritakan masalah yang dihadapi temannya.
“Paman, Oyet mendapati permasalahan di perutnya, ia sering kentut berlebihan dan baunya sangat bau,” jelas Musa. “Kami sudah menemukan ramuan yang Paman tuliskan di buku ramuan, tapi… lihatlah,Paman!”
Musa menunjukkan kertas ramuan yang robek dimakan rayap. Paman Kuku segera menuju meja kerjanya, ia memasukkan bahan ajaib ke dalam mangkuk ramuan.
“Minumlah ramuan teh jahe ini dan ingat hindari memakan buah apel, mangga, dan semangka secara berlebihan karena itu salah satu penyebab kentut berlebihan,” jelas Paman Kuku.
“Baik, Paman,” kata Oyet sambil meminum ramuan tersebut. Ajaibnya, sejak saat itu Oyet sudah tidak lagi kentut berlebihan. Oyet pun merasa sangat bahagia, begitupun dengan Musa. Ia sangat berterima kasih kepada Paman Kuku. (*)


