Frame 117

Kakek Suripto

By Kak Bambang Irwanto

“Kamu punya Kakek, Ndi?” tanya Putra pada Andi.

Andi yang sedang makan donat langsung berhenti mengunyah. “Ada. Bapaknya ayahku. Tapi jauh di Kebumen Jawa Tengah. Aku malah belum pernah bertemu.”

Mata Putra langsung membulat. “Masa punya kakek tidak pernah bertemu? Kalau aku sih, sampai bosan. Kan, kakekku tinggal bersamaku.”

 “Ya, soalnya jauh,” Tukas Andi.

 Andi lalu menjelaskan pada Putra. Perjalanan dari kota mereka Makassar ke Kebumen itu harus naik pesawat ke Yogyakarta dulu. Terus lanjut naik kereta atau bus ke Kebumen. Sedangkan kalau naik kapal laut, itu sehari semalam ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, selanjutnya baru lanjut ke Kebumen. Kalau naik kereta api sekitar tujuh jam.

“Wah, jauh benar,” ujar Putra. “Tapi baguslah, soalnya kalau tinggal sama kakek itu menyebalkan.”

Putra lalu menceritakan tentang kakeknya yang suka marah-marah, cerewet dan suka mengomel.

                                                   ***

“Andi, ada kabar baru nih!: kata Kak Aurel saat Andi tiba di rumah.

“Kabar apa, Kak?”

“Kakek mau datang ke sini,” jawab Kak Aurel dengan raut senang.

Andi langsung terkejut. Apalagi kabarnya mendadak begini. Kemarin Ayah dan Ibu tidak cerita, kalau Kakek Suripto mau datang.

“Kok tampangmu begitu? Kamu tidak senang Kakek datang?”

Andi hanya terdiam. Ia langsung teringat cerita Putra. Kata Putra, kakeknya itu galak dan suka memarahinya. Jangan-jangan Kakek Suripto juga nanti begitu. Iiih… takut. Andi bergidik sendiri.

Andi lalu mencari Ibu. Ternyata Ibu lagi menyiram tanaman di belakang rumah.

“Bu, katanya Kakek mau datang, ya?”

“Iya, besok. Nanti kita sama-sama jemput di Bandara Hasanuddin, ya!”

Andi hanya mengangguk lemah.

                                                     ***

Pagi ini Andi tidak bersemangat. Padahal sebentar lagi, ia bersama Ayah, Ibu, dan Kak Aurel akan menjemput Kakek Suripto di Bandara Hasanuddin Makassar. Kakek yang hanya ia kenal lewat foto sebab di kampung Kakek tidak ada saluran telepon apalagi internet.

Jujur Andi jadi takut bertemu Kakek Suripto, setelah ia mendengar cerita Putra. Andi takut akan sering dibentak dan dimarahi juga.

“Apa yang harus aku lakukan ya?” gumam anak usia 10 tahun itu.

“Andi, kamu sudah siap belum?” Ibu muncul dari balik pintu. “Lho, kok kamu belum ganti baju?”

“Anu, Bu! Aku tidak ikut. Perutku sakit,” bohong Andi.

“Kok bisa? Padahal kamu tidak makan makanan sembarangan.”

“Tapi perut Andi sakit, Bu!”

“Ya, sudah, kamu di rumah saja. Nanti minta obat sama Mbak Inah, ya!”

“Iya, Bu!” Andi menarik napas lega.

                                               ***

“Wah, gawat!” seru Putra saat Andi bercerita kalau kakeknya akan datang.

Jadi begitu Ayah, Ibu dan Kak Aurel pergi menjemput Kakek Suripto, Andi bergegas pergi ke rumah Putra.

“Iya, aku bingung,” kata Andi.

“Putra! Tolong bantu Kakek!” Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar.

Putra tersentak dan menatap Andi tajam. “Ssstt… itu kakekku. Kita pergi saja, yuk!”

“Eh, tapi kakekmu minta bantuan,” tukas Andi.

“Putra!” Terdengar lagi panggilan dari dalam kamar.

Tanpa menunggu lama, Putra langsung berlari keluar rumahnya. Tinggal Andi terheran-heran di ruang tamu.

“Putra! Tolongin Kakek!”

Dengan ragu-ragu, Andi berjalan menuju asal suara kakeknya Putra. Andi memberanikan diri masuk. Tampak kakeknya Putra sedang duduk di sisi tempat tidur.

“Putra, tolong ambilkan kacamata Kakek. Kakek tidak bisa melihat jelas.”

Andi melihat sekeliling kamar, dan melihat ada sebuah kacamata tergeletak di meja kecil dekat tempat tidur. Bergegas Andi mengambil, lalu memberikan pada kakeknya Putra.

“Eh, kamu siapa?” tanya kakeknya Putra begitu memakai kacamata.

“Saya Andi, Kek. Teman Putra. Rumah saya yang cat biru.”

  “Oh, anaknya Pak Bahar. Terima kasih ya, sudah menolong Kakek.”

“Sama-sama, Kek!”

 Tanpa diminta, kakeknya Putra lalu bercerita. Putra itu malas kalau dimintai tolong. Padahal kakeknya sering butuh bantuan. Mulai dari mencari kacamata, membantu ke kamar mandi, termasuk mengambilkan tongkat yang terjatuh.

“Kakek yang mengurus Putra dari kecil. Bapak dan ibunya kan kerja di luar kota. Putra itu malas kalau dimintai tolong. Padahal kadang hanya lagi main game. Makanya Kakek sering marah-marah,” cerita kakeknya Putra.

“Oooh, begitu ya, Kek.” Kini Andi mengerti. Harusnya ia tidak boleh langsung percaya dengan ucapan Putra. Apalagi menganggap kakek Putra jahat.

“Padahal Kakek itu sayang sama dia. Bahkan Kakek sudah menyisihkan uang pensiun, buat beli sepeda Putra,” cerita kakek Putra.

Andi kini sadar bahwa dia sudah salah menilai, salah juga berpikir buruk terhadap Kakek Suripto. Ia jadi tidak sabar ingin bertemu Kakek Suripto. Ia yakin, kakeknya juga tidak galak.

Andi lalu pamit, kemudian berlari menuju rumahnya. Tampak mobil Ayah sudah terparkir di depan rumah. Andi berlari masuk.

“Kakek mana?” tanya Andi antusias.

“Kakek sudah pergi lagi. Kamu kan tidak suka Kakek ke sini,” kata Kak Aurel.

“Eh, kata siapa?”

“Tadi Kakak mencarimu dan bertemu Putra. Kata Putra kamu tidak mau Kakek datang.”

“Awalnya memang begitu, Kak. Tapi sekarang tidak lagi.” Andi lalu menceritakan semuanya tentang kakek Putra.

“Pokoknya gara-gara kamu, Kakek jadi tidak betah di sini!” omel Kak Aurel.

Andi hanya bisa tertunduk dengan raut bersalah. Ia menyesal sudah menduga Kakek Suripto galak.

“Andi! Cucu Kakek!”

Tiba-tiba Andi mendengar suara asing. Ia segera menoleh. Tampak seorang lelaki tua yang selama ini hanya ia kenali lewat foto. Kakek Suripto keluar dari kamar tamu dan tersenyum lebar.

“Kakek?” Andi langsung berlari menyongsong kakeknya yang ternyata masih ada di rumah mereka.

Kak Aurel menahan senyum karena berhasil menggoda Andi.

Andi begitu lega dan gembira. Kakek Suripto bahkan sangat ramah dan suka bercanda. (Tamat)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage