Frame 117

Kabayan dan Rentenir

By Redaksi

Si Kabayan punya banyak berhutang pada rentenir dan itu membuat dia pusing memikirkannya. Sebab hutang Kabayan terus bertambah akibat bunga hutangnya terus bertambah. Bagaimana dia bisa melunasi hutangnya ketika  tidak ada lagi barang yang bisa dijual untuk membayar?

“Makanya, jangan suka berhutang pada rentenir, kata Pak Haji itu dosa!” kata istrinya.

Kabayan berpikir dan berpikir hingga akhirnya muncul ide untuk melunasi hutang dan memberi pelajaran kepada rentenir.

“Akhirnya!” katanya kepada sang istri. “Sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan!”

Kabayan mengatakan rencananya. Sang istri setuju dengan ide Kabayan, bahkan menyambutnya dengan sangat antusias dan membantu Kabayan melaksanakannya.

Pertama-tama dia mengisi baskom dengan anggur dan menyebarkan pohon poplar di lantai dekat kamar mandi. Kabayan lalu mandi arak dan membungkus badannya yang basah dengan kapas hingga memutih dan berbulu.

Lalu dia merangkak ke kandang ayam besar.

Tidak lama kemudian rentenir datang ke rumah Kabayan untuk menagih hutang.

“Kang Kabayan tidak ada di rumah,” kata istrinya kepada rentenir itu.

“Di mana dia?” tanya rentenir.

“Dia pergi menghadap Pak Lurah.”

“Pak Lurah?” tanya rentenir heran. “Apa yang terjadi?”

“Dia pergi untuk memberi tahu Pak Lurah bahwa dia telah menemukan dan menangkap seekor ayam yang sangat langka. Bulunya seputih kapas dan badannya sebesar manusia.”

“Ayam langka? Jenis burung apa?” Rentenir itu mengungkapkan keinginannya untuk melihat burung aneh itu, tetapi istri Kabayan menolak.

“Kang Kabayan hanya akan menunjukkan ayam langka dan besar ini kepada Pak Lurah dan jika dia menunjukkannya kepada orang lain, maka Kang Kabayan akan sangat marah karena dia secara khusus mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat ayam itu selain Pak Lurah.”

Penjelasan ini justru memperkuat keinginan si rentenir untuk melihat burung temuan Kabayan. Dia tahu, Pak Lurah sangat menggemari hewan-hewan unik dan langka. Pasti ayam itu sangat istimewa, beda dari yang lain. Dan dengan sedikit desakan, istri Kabayan akhirnya setuju untuk menunjukkan kepada rentenir ayam ajaib itu.

Istri Kabayan yakin dan membawa rentenir tersebut ke belakang rumah, di mana dia menunjuk ke seekor ayam yang ditutupi kain dalam kandang besar.

Penasaran, rentenir itu mengangkat ujung kain penutup. Saat kain terangkat lebih tinggi, Kabayan keluar dari kandang dan berseru, “Ba-ra-ka-tak-tak, ba-ra-ka-tak-tak!”

Si Rentenir takjub melihat ayam yang begitu besar dan berbulu seputih kapas. Ia mencoba melihat lebih dekat. Tiba-tiba Kabayan lari dan kabur.

Istri Kabayan mulai menangis, “Lihat apa yang telah kamu lakukan! Apa yang akan kukatakan pada Kang Kabayan dan apa yang Pak Lurah katakan nanti? Aku harus memberitahunya bahwa ini semua salahmu hingga ayamnya kabur. Kang Kabayan harus memberi tahu Pak Lurah! Kalau tidak maka Pak Lurah bisa menghukum kami karena dituduh berbohong.”

Rentenir itu ketakutan dan memohon, “Tolong jangan! Jangan beri tahu Kabayan dan Pak Lurah. Aku bersedia memberimu uang sebagai imbalannya.”

“Padahal Kang Kabayan pasti diberi uang banyak jika Pak Lurah bisa melihat dan memiliki ayam ajaib yang langka itu dan dia bisa melunasi hutangnya padamu,” kata istri Kabayan lagi.

“Tolonglah, jangan memberitahu Kabayan. Biarlah hutangnya aku anggap lunas. Tapi jangan laporkan itu ke Kabayan dan Pak Lurah,” kata rentenir itu dengan cemas.

“Baiklah, aku kasihan padamu. Daripada kamu dimarahi Kang Kabayan dan dihukum oleh Pak Lurah, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini!” Istri Kabayan menyuruh rentenir itu segara meninggalkan rumahnya.

Tidak lama, Kabayan kembali ke rumahnya dengan tubuh yang sudah bersih dari kapas. Istrinya menceritakan semua yang terjadi. Kabayan tersenyum senang, akhirnya hutangnya kepada rentenir lunas tanpa perlu mengeluarkan uang. (Tamat)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage