“Nanti Paman Rezki dan Sokat mau datang lho…!” kata Bunda sambil menyapu lantai.
Beny yang sedang asyik bermain dengan mobil tamiya baru terdiam beberapa saat, baginya itu adalah sebuah pertanda akan ada masalah besar yang akan menimpanya.
Beberapa waktu lalu Sokat bersikeras minta dibelikan kotak pensil seperti miliknya, padahal barang itu hadiah dari Om Ari Kunto, adik Bundanya yang kini bekerja di Jakarta. Kotak pensilnya bisa berbunyi seperti piano, ada nada-nada yang keluar jika tuts-tuts keyboard not yang ada disampulnya dipencet.
Di Blitar kota tempatnya tinggal belum ada toko yang menjual kotak pensil serupa. Ayah dan ibu Sokat bingung di mana harus mencari dan membelinya. Saat sakit demam, Sokat mengigau minta dibelikan kotak pensil seperti milik Beny.
“Bu…, kotak pencil Beny, Bu…, kotak pencil Beny…” kata Sokat dengan ucapan yang masih cadel. Sokat berusia enam tahun dan Beny tujuh tahun.
Tak ada pilihan lain, Bunda memohon supaya Beny mengikhlaskan kotak pensil itu untuk Sokat. Alasan Bunda karena Sokat masih kecil dan Beny sudah lebih besar jadi dia harus mengalah. Dengan berat hati Beny berikan kotak pensil kesayangannya buat Sokat. Dia ingin Sokat segera sembuh, supaya ayah-ibunya tak bersedih hati lagi.
Tanpa disangka, beberapa hari kemudian Om Ari Kunto mengiriminya kembali kotak pensil musik yang lebih bagus dan sebuah organizer book yang sangat keren. Beny bertambah semangat belajar dengan kiriman Om Ari Kunto kali ini, jika lelah belajar dia bisa memainkan tuts-tuts piano mini yang ada di kotak pensil musiknya. Do-re-mi-fa-sol-la-si-do.
***
Sokat selalu begitu, Beny sering jengkel padanya. Seringkali Sokat menginginkan barang yang dia miliki, dan yang lebih membuat kesal adalah jika Sokat menginginkan barang yang dianggap Beny adalah barang berharga.
Siang itu, saat Bundanya belum lama membicarakan tentang rencana kedatangan Paman Rezki dan Sokat, tiba-tiba dia mendengar deru sepeda motor Paman Rezki ayah Sokat, dan sedikit teriakan Sokat dengan suara cedal dari depan rumahnya.
“Aku dataaang….! Budeee! Benyyy! Cokat punya pemen!”
Bergegas Beny hendak menyembunyikan mainan mobil tamiya model baru miliknya. Mobil tamiya model baru itu dia beli dari uang tabungannya. Dia menabung uang sakunya beberapa lama supaya cita-citanya mempunyai mobil tamiya itu tercapai. Sering ia menahan diri tidak jajan dan memilih membawa dan memakan bekal yang dibawakan bundanya.
“Beny, Ayah dan Bunda tak mau membelikan mainan semacam itu, harga mainan itu cukup mahal. Lebih baik uangnya kita gunakan untuk membeli barang-barang yang lebih bermanfaat,” kata ayah Beny beberapa bulan lalu. Beny terlihat diam sedih mendengar pernyataan ayahnya.
“Hmmm… Beny benar-benar ingin?” tanya ayahnya saat itu karena tak tega melihat Beny.
“Iya Yah, Beny ingin ikut bertanding juga bersama teman-teman dengan tamiya model baru!” ujar Beny sambil menekuk muka cemberut.
“Oke, Beny. Ayah dan Bunda bisa ijinkan Beny punya mobil-mobilan tamiya baru asalkan dibeli dari uang tabungan Beny sendiri. Bagaimana?” kata ayah Beny akhirnya, yang disambut dengan anggukan kepala dan wajah sumringah milik Beny. Wajarlah jika kini, ia tak ingin mainannya diminta Sokat lagi.
Siang itu Beny sedang asyik-asyiknya merancang model baru mobil tamiya-nya, karena mobil tamiya barunya ini bisa diubah dengan berbagai bentuk dengan kreasinya. Bergegas ia mengamankan mainannya yang masih berserak, tangannya yang mungil tak sigap meraih semuanya. Karena terburu-buru justru akhirnya beberapa jatuh berserakan.
Tak sabar dia kembali mengemasi mainan mobil tamiya-nya yang terjatuh di lantai saat ia mencoba berdiri mengamankan mainannya ke almari penyimpanan. Sedangkan langkah kaki dan teriakan Sokat mulai membahana dari beranda rumahnya memanggil nama Beny.
“Beny! Beny! Okat punya pemen!” kata Sokat dengan cadel.
“Huaaa, sang drakula sudah muncul!” gumam Beny panik.
Tanpa disadari kakinya terbentur kaki meja dan Beny terjungkal saat mencoba berdiri mengamankan mainannya. Mobil tamiya mainannya terpelanting dan tanpa disangka ditemukan Sokat.
“Hufff!” sungut Beny.
Paman Rezki dan bundanya berusaha menolong bangun. Kepala Beny terbentur badan meja, memar dan kakinya sebelah kanan keseleo. Paman Rezki dengan sigap langsung mengurut kaki Beny dengan minyak urut milik Bunda.
Sambil menahan nyeri kakinya yang keseleo, Beny berpikir, “Apakah Tuhan ingin menegurku?”
Beberapa menit kemudian, apa yang ditakutkannya Beny terbukti, Sokat menginginkan mainannya.
“Mobil ini Okat mau! Dibawa pulang ya Yah!” rengek Sokat.
Bunda memandang wajah Beny tidak tega, karena beliau tahu bagaimana susah payahnya Beny menabung untuk mendapatkan mainan barunya itu. Bunda berusaha mengalihkan perhatian Sokat pada mainan Beny yang lain, namun tidak berhasil dan justru Sokat menangis kencang.
Beny tertegun melihat tingkah sepupunya itu. Sambil masih menahan nyeri di kakinya, ada sebuah keajaiban dalam hati Beny. Tiba-tiba ia berkata, “Ya sudah, ini buat Sokat aja.”
Beny mengulurkan mainan mobil tamiya barunya. Bunda merasa tak percaya dan takjub karena Beny dengan sukarela memberikan mainan baru yang sebenarnya amat disayanginya itu.
Beny merasa mungkin Tuhan tak suka jika ia pelit dan tak mau berbagi. Beny yakin masih bisa menabung lagi untuk membeli mobil tamiya yang baru. Beny memandang Sokat yang kegirangan dengan senyum mengembang.
Sementara Paman Rezki masih terus mengurut pergelangan kaki Beny dengan telaten. Terasa mulai enakan dan tidak sesakit yang tadi.
Tulilit…! Tulilit…!
Ponsel Bunda berdering. Saat mengangkat telepon dan mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana, wajah Bunda tampak berubah. Senyum dan ekspresinya terlihat begitu senang. Begitu telepon ditutup Bunda langsung mendekati Beny.
“Selamat ya, Nak, kamu jadi juara pertama pada Perlombaan Menulis Nasional yang diselenggarakan majalah anak-anak kemarin! Bunda nggak nyangka hadiahnya sangat besar. Bunda bangga sama Beny. Kamu bisa beli mobil tamiya lagi dari hadiah tabungan itu,” kata Bunda sambil memeluk dan mencium keningnya sebagai pertanda sayang.
“Wah, selamat ya, Beny, kamu hebat!” puji Paman Rezki ikut bangga.
“Yeeey! Beny hebaaat!” Sokat yang ikut menguping berseru senang.
Mata Beny mengerjap, sungguh ia tak percaya. Ternyata Tuhan membalas keikhlasannya dengan berlipat dan cepat. Beny mulai meyakini bahwa jika ia memberikan hadiah yang terindah pasti ia akan mendapatkan balasan dari Tuhan hadiah yang lebih indah. (*)


