Hujan turun pelan-pelan di desa nelayan. Atap rumah kayu kecil di ujung dermaga basah oleh rintik hujan. Di dalam rumah, Raka, yang berusia sembilan tahun sedang memeras kain untuk kompres. Di sebelah tempat tidurnya, terbaring Ibu, wajahnya pucat dan tubuhnya lemah karena sakit yang sudah berbulan-bulan.
“Ibu, Abang ganti dulu kompresnya, ya,” bisik Raka lembut sambil menyentuh dahi Ibu dengan kain basah.
Ibu membuka matanya perlahan, menatap Raka dengan senyum tipis. “Terima kasih, Nak… semoga Allah selalu jaga Abang Raka…”
Raka menunduk, hatinya terasa berat. Sejak Ibu jatuh sakit, rumah mereka menjadi sunyi. Padahal dulu, Ibu selalu mengisi waktu dengan bacaan surat-surat pendek dari Al-Qur’an yang merdu. Suaranya tenang, lembut, dan membuat hati nyaman. Raka dan adik perempuannya yang bernama Aira, berusia empat tahun, sangat senang mendengar suara indah ibu mereka.
Sekarang, Ibu terbaring lemah di kasur. Ayah yang seorang nelayan, setiap pagi harus pergi melaut. Jadi, Raka lah yang merawat Ibu dan menjaga adik di rumah.
Pagi itu, setelah mengganti kompres, Raka berjalan ke dapur. Ia mengambil beras dan menyiapkan bubur. Ia sudah terbiasa menanak nasi, menyapu rumah, bahkan menyisir rambut Aira.
“Aira, duduk manis ya. Abang masak bubur buat Ibu,” ucap Raka.
Aira yang duduk di tikar sambil menggambar dengan krayon, mengangguk. “Aira juga mau bantu.”
“Nanti bantu suapin Ibu, ya,” kata Raka sambil tersenyum.
Ketika bubur matang, Raka mendinginkan sebentar lalu menyuapkan ke Ibu.
Ibu memakannya sedikit, lalu berkata lirih, “Kalau Abang lelah… istirahatlah, ya.”
Raka mengangguk. “Abang nggak lelah, Bu. Abang senang bisa bantu Ibu.”
Beberapa hari kemudian, Ibu terlihat semakin lemah. Tapi suatu malam, sebelum tidur, ia memanggil Raka dan Aira mendekat.
“Ibu minta maaf nggak bisa bacain surat-surat lagi…”
Raka memeluk Ibu pelan. “Nanti Abang yang bacain, Bu. Abang hafal Al-Fatihah sama An-Naas.”
Ibu tersenyum haru. “Masya Allah… Ibu bangga sekali.”
Malam itu, sebelum tidur, Raka membacakan surat Al-Fatihah di samping Ibu. Suaranya pelan, terbata, tapi penuh niat. Aira ikut menyimak dan menirukan meski belum lancar.
Besoknya, Ayah pulang membawa ikan dari laut. Ia duduk di samping Ibu, menggenggam tangan Ibu yang dingin.
“Ibu kuat ya… Raka dan Aira butuh Ibu.”
Ibu menatap Ayah sebentar, lalu tersenyum pelan.
Di luar rumah, angin laut berhembus pelan. Raka duduk memandangi langit malam, berdoa dalam hati agar Ibu diberi kesembuhan.
Beberapa hari kemudian, Ibu semakin lemah. Tangannya sulit digerakkan. Namun matanya masih hangat saat menatap anak-anaknya.
***
Suatu sore, Ibu berbisik kepada Raka, “Kalau nanti Ibu nggak ada… jaga Aira baik-baik… dan jangan lupa baca Qur’an ya, Nak.”
Raka menahan tangisnya. “Abang janji, Bu.”
Ibu memejamkan mata, napasnya semakin pelan. Hari itu, Ibu meninggal dunia dalam keadaan damai, dikelilingi orang-orang yang ia cintai.
Rumah itu menjadi sangat sunyi. Aira sering bertanya kenapa Ibu tidak bangun lagi. Raka memeluknya dan mengelus kepalanya.
“Ibu sekarang di tempat yang indah, Aira. Di sisi Allah.”
Hari-hari berlalu. Raka mulai kembali ke sekolah. Ia tetap membantu Ayah dan menjaga Aira di rumah.
Suatu malam, ketika sedang membaca Iqra bersama Aira di ruang tengah, Aira tiba-tiba bertanya, “Bang… Ibu sekarang di mana?”
Raka terdiam sejenak. Lalu ia mendekap Aira.
“Ibu ada di surga, Insya Allah… Ibu tenang di sana. Kalau kita rajin shalat, baca Al-Qur’an, Ibu pasti senang. Kita harus selalu doain Ibu.”
Aira menatap kakaknya. “Kalau Aira baca Al-Falaq, Ibu dengar nggak?”
Raka mengangguk. “Dengar, dari langit. Dan Ibu pasti tersenyum.”
Malam itu, Raka dan Aira membaca surat pendek bersama. Suara mereka pelan, tapi penuh makna. Seperti gema doa yang naik ke langit, membawa cinta seorang anak kepada ibu yang telah pergi. (*)


