Frame 117

Didi Takut Tidak Punya Teman

By Dinda Tri Puspita Sari

Takut.

Satu kata itu yang membuat Didi sulit tidur malam ini. Didi khawatir di sekolah barunya, teman-teman tidak akan menyukainya. Sebab, Didi tahu bahwa dirinya adalah buah durian. Banyak duri, anak buah-buahan yang lain akan kesakitan bila bersentuhan dengan Didi. Selain itu, kadang Didi juga mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Pasti mereka menganggap Didi aneh.

“Aaaa!”

Didi takut tidak punya teman. Apalagi di sekolah barunya ini, tidak ada buah dari iklim tropis seperti Didi si buah durian. Hampir semua anak di sana tergolong buah yang berasal dari iklim dingin.

Namun, bagaimanapun Didi harus berangkat sekolah. Didi berusaha mengusir ketakutannya malam ini dengan menghitung bintang pada sebuah lukisan di dinding kamarnya. Lama-kelamaan Didi pun tertidur.

***

Di kelas, Didi bertemu banyak teman baru. Betul, mereka adalah buah-buahan iklim dingin. Ada Bobo si bluberi, Sita si buah stroberi, Pino buah pir, dan Cila si buah ceri.

Ibu guru Plum meminta Didi untuk perkenalan. Didi gugup, kini semua mata tertuju padanya. Hanya satu pertanyaan yang selalu berputar di kepala Didi; Apakah mereka mau berteman denganku?

Ketakutan Didi semakin bertambah saat selesai berkenalan. Sebab Didi mendengar ada yang berbisik-bisik. Didi berpikir pasti mereka membicarakan bahwa dirinya aneh.

Bu guru Plum meminta Didi duduk di bangku belakang, sebab ukuran Didi si buah durian ini lebih besar dibandingkan teman-teman sekelasnya. Jadi supaya tidak menghalangi teman yang lain, Didi harus duduk di bangku belakang.

Tidak lama dari itu, ada anak perempuan yang tergesa-gesa masuk ke kelas Didi. Bu guru Plum menatap anak itu dengan sedikit terkejut. Itu adalah Megi, si buah manggis. Didi juga ikut terkejut.

“Wah, ternyata ada buah iklim tropis juga yang bersekolah di sini,” gumam Didi.

“Maaf Ibu Plum dan teman-teman, kali ini Megi terlambat,” Megi mengucapkannya sembari menunduk.

Bu Plum menjawab, “Tidak apa-apa Megi. Silakan duduk, kita baru akan mulai.”

Eits, Megi tidak duduk di tempat biasanya. Seharusnya dia duduk di dekat jendela paling depan. Megi justru duduk di sebelah Didi si durian. Megi terlihat berseri-seri meskipun keringat kelelahan akibat tergesa-gesa masih menempel di wajahnya.

“Kamu buah durian, ya? Namamu siapa?” sapa Megi.

Megi terlihat tertarik punya teman yang sama-sama buah iklim tropis seperti Didi. “Aku Didi. Kamu?”

“Salam kenal, aku Megi. Akhirnya ada buah iklim tropis lainnya di sini. Aku senang. Kamu jangan khawatir, meskipun di sekolah ini banyak anak buah-buahan iklim dingin, kamu tetap akan nyaman di sini, karena mereka semua baik.”

Mendengar perkataan Megi, ketakutan Didi berkurang. Rasanya Didi menjadi lebih tenang. Didi jadi berpikir, apakah di sekolah ini masih ada lagi buah iklim tropis seperti dirinya dan Megi?

Namun yang terpenting, perkataan Megi benar, anak-anak lain seperti Bobo, Sita, Pino, dan Cila, mereka semuanya baik. Mereka tidak seperti yang ditakutkan oleh Didi semalam. Mereka justru sangat tertarik mengenal buah-buahan dari iklim lainnya seperti Megi dan Didi.

“Wah, ternyata buah durian itu besar ya, dan yang aku dengar rasa buahmu manis ya, Didi?” tanya Bobo penasaran.

“Betul. Meskipun aku berduri, tapi buahku rasanya manis.”

“Orang juga tidak akan berani macam-macam denganmu, durimu itu tajam sekali,” timpak Cila dengan wajah jenaka.

Mereka jadi tertawa bersama.

“Wah menarik! Oh iya, kamu juga harus berkenalan dengan anak buah-buahan lainnya dari iklim tropis. Walaupun mereka tidak banyak sih, hehe,” ucap Megi bersemangat.

Didi semakin lega. Berkat kehadiran Megi dan sambutan hangat dari teman lainnya, ketakutan Didi hilang. Semuanya ternyata baik-baik saja. Hanya pikiran Didi yang berlebih-lebihan. (Tamat)

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage