Chana menoleh ke kanan dan kiri. Ia kebingungan. Ayah dan Bunda tidak terlihat. Orang-orang di sekitar Chana terasa asing. Chana tidak mengenal mereka,
Tempat ini sangat ramai. Banyak penjual makanan dan jajanan. Ada juga yang menjual kendaraan bermotor. Balon-balon angin berbentuk orang berjoget di mana-mana. Ayah bilang, sekarang ulang tahun Jakarta.
Namun, di mana Ayah?
Kaki kecil Chana melangkah. Sesekali ia menengadah. Berharap orang yang ia lihat adalah Ayah dan Bunda. Sayangnya, bukan. Chana belum menemukan mereka.
Chana menyesal. Seharusnya tadi ia berpegangan pada Ayah. Chana terlalu asyik menonton permainan lempar bola. Ia lupa Ayah dan Bunda. Tahu-tahu, Chana sendirian di sini.
Langkah Chana terhenti. Ada ondel-ondel berwarna hijau neon di depannya. Chana takut. Ondel-ondel itu berwajah merah.
Chana berbalik arah. Ia akan mencari Ayah dan Bunda di tempat lain. Berharap tidak bertemu ondel-ondel itu lagi.
Saat Chana menoleh ke belakang. Ondel-ondel itu ada di belakangnya. Chana terkejut. Tubuhnya gemetar. Ia berlari sekencang-kencangnya.
Chana sudah lelah. Ia memaksakan kakinya berlari. Sesekali ia menoleh. Ondel-ondel itu masih mengikuti.
Ternyata di depan Chana ada ondel-ondel lagi. Warnanya hijau neon juga. Wajahnya berwarna putih. Chana berhenti. Napasnya terengah. Ia tidak bisa lari lagi.
Ondel-ondel berwajah merah membawanya. Chana ingin berteriak. Namun, suaranya terasa hilang. Ia merasa ingin pingsan.
Chana benar-benar menyesal karena tidak menggandeng Ayah. Ia akan meminta maaf pada Ayah dan Bunda nanti. Chana yakin, orang tuanya pasti mencari. Air mata Chana turun. Ia menangis diam-diam.
Di depan Chana ada empat orang laki-laki berkaus hitam. Ada rambut ondel-ondel berserakan di lantai. Warnanya putih dan merah muda. Empat orang itu menghampiri Chana. Dua ondel-ondel tadi masih di belakangnya.
“Tolong bukain!”
Chana menoleh ke arah ondel-ondel berwajah merah. Suaranya akrab di telinga Chana. Ia tidak ingat siapa. Chana hanya berharap ondel-ondel itu orang baik.
Empat orang tadi mengangkat baju kostum ondel-ondel. Sedikit-sedikit, sosok itu terlihat. Hingga kostum itu terlepas.
“Kak Mario!” Chana memeluk sosok dalam ondel-ondel itu.
“Chana tersesat, ya?”
Chana mengangguk. Ia merasa tenang karena ada Mario. Mario tetangga Chana. Rumahnya di depan warung tempat Chana jajan. Mario bukan anak kelas II SD seperti Chana. Mario sudah kuliah.
“Tunggu ya, Kakak telepon Ayah dulu.”
Mario membawa Chana duduk di pinggir. Ia memberi Chana segelas air mineral. Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dari saku. Mario berbicara dengan ayah Chana sebentar. Lalu, ia menyimpan lagi ponselya.
“Chana kok tadi lari?” tanya Mario. Ia duduk di sebelah Chana.
“Chana takut.”
“Takut ondel-ondel?”
Chana mengangguk. “Chana nggak tahu kalau di dalamnya orang.”
“Selama ini Chana kira apa?”
Chana diam. Ia malu untuk menjawab. Ia berpikir kalau ondel-ondel adalah makhluk. Makhluk besar dengan wajah merah yang bisa berjalan ke mana-mana. Seperti manusia. Hanya lebih besar dan seram.
“Sekarang nggak usah takut lagi.” Mario menunjuk kostum ondel-ondel hijau neon tadi. “Kalau nggak ada orang di dalamnya, ondel-ondel cuma seperti itu.”
Chana melihat kostum ondel-ondel yang tadi Mario pakai. Kostum itu berdiri tegak di pinggiran. Orang-orang berbaju hitam tadi sedang merapikan bajunya.
“Mau pegang? Nggak menggigit, kok.”
Bersama Mario, Chana menghampiri ondel-ondel itu. Ia masih takut. Namun, Chana mencoba berani. Mario bilang, ondel-ondelnya tidak akan bergerak.
Chana memegang baju hijau neon ondel-ondel. Ondel-ondel hanya diam. Lalu, Chana memegang tangannya. Ternyata seperti tangan boneka Mickey Mouse punya Chana.
“Nggak gigit, kan?” tanya Mario.
“Nggak. Chana nggak takut lagi,” ucap Chana.
“Chana!”
Chana menoleh. Ayah dan Bunda sudah ada di belakangnya. Ia tersenyum lega. Ayah merentangkan tangannya. Chana masuk ke pelukan Ayah.
“Chana minta maaf karena nggak gandeng Ayah.”
“Ayah maafin.”
“Chana nggak mau ceroboh lagi.”
Ayah mengusap rambut Chana. Benar-benar nyaman. Bunda ikut mengusap rambutnya. Mario tersenyum lebar.
“Sudah bilang terima kasih ke Kak Mario?” tanya Ayah.
“Hehehe belum.” Chana menoleh pada Mario. “Terima kasih ya, Kak.”
“Iya, Chana.”
Ayah dan Bunda turut mengucapkan terima kasih pada Mario. Setelah itu, mereka kembali berjalan-jalan. Ayah membelikan Chana jajanan. Chana juga tidak lupa menggandeng Ayah dan Bunda. Ia tidak mau tersesat lagi. (Tamat)


