Frame 117

Batu Menangis

By Redaksi

Di sebuah desa tinggal seorang ibu dan anak gadisnya yang bernama Darmi. Gadis itu memang cantik, tapi sayangnya kepribadiannya tidak secantik wajahnya. Darmi adalah gadis pemalas yang hanya suka berdandan. Dia melihat dirinya di cermin setiap hari dan mengagumi kecantikan wajahnya.

“Oh, aku sangat cantik,” katanya memuji diri sendiri. “Aku lebih suka tinggal di istana daripada di gubuk reyot seperti ini.”

Matanya berputar ke sekeliling ruangan. Tempat tidurnya hanya sebuah kasur yang tidak empuk. Tidak ada cermin besar, lemari mewah, kursi berukir seperti impiannya. Darmi bergumam dalam hati, “Sampai kapan aku hidup melarat seperti ini?”

Darmi memang tidak kaya. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya tidak punya banyak uang. Untuk menghidupi mereka, perempuan tua itu bekerja keras dari pagi hingga malam. Apa pun dia lakukan, mencari kayu bakar di hutan, memotong rumput untuk memberi makan kambing tetangganya, dan mencuci pakaian orang lain. Dia akan melakukan pekerjaan apa pun dengan upah kecil.

Sebaliknya, Darmi adalah anak yang manja. Dia tidak pernah merasa kasihan pada ibunya yang bekerja keras sepanjang hari. Dia bahkan tidak sudi repot-repot membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah semisal memasak atau menyapu rumah.

Suatu hari, temannya di desa akan mengadakan pesta. Darmi telah menerima undangan untuk datang ke pesta itu. Tentu saja, ia senang sekali. Dia membayangkan tamu pesta menatap wajahnya yang cantik. Para pria mengagumi kecantikannya, lalu para wanita bisa iri dengan penampilannya.

Tapi tiba-tiba Darmi teringat bahwa dia tidak memiliki pakaian yang tepat untuk pesta itu. Ia segera menemui ibunya sedang memasak di dapur.

“Bu, tolong belikan aku baju baru dan selendang. Lusa, akan ada pesta dan aku tidak punya pakaian yang layak. Semua pakaianku sudah usang,” seru Darmi.

“Kamu kan baru beli baju baru bulan lalu. Mengapa tidak menggunakan ini saja? Tidak apa-apa, kan?” kata sang ibu.

“Oh tidak! Aku sudah pernah memakai baju itu sebelumnya dan aku malu memakainya lagi. Apa yang akan orang katakan nanti? Pokoknya Ibu belikan aku baju lagi!”

Ibunya menarik napas dalam-dalam. Dia tidak bisa menolak jika anaknya sudah punya keinginan. “Baiklah, Ibu akan membelinya di pasar besok pagi.”

“Tidak. Biar aku saja yang pergi ke pasar! Ibu berikan saja uang agar aku bisa membelinya sendiri.”

“Untuk membeli baju itu, kita harus menjual kayu bakar dulu di pasar. Kamu pasti tidak mau menjual kayu itu kan? Jadi kita harus pergi berdua,” jelas ibunya.

Darmi terdiam. Dia sebenarnya tidak ingin pergi ke pasar bersama ibunya. Tapi tanpa uang hasil penjualan kayu bakar, dia tidak bisa membeli baju baru, jadi dia tidak punya alasan untuk menolak.

Keesokan paginya mereka bersiap untuk pergi ke pasar. Darmi terlihat sangat cantik dengan gaun merah jambu yang terlihat mahal sementara ibunya mengenakan baju Iusuh. Darmi berjalan sangat cepat sehingga ibunya tidak bisa mengikutinya.

“Hei Darmi! Mengapa kamu berjalan begitu cepat? Ibu tidak bisa mengikutimu.” Ibunya memanggil dari belakang.

Darmi tidak mengatakan apa-apa dan terus mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin dilihat orang berjalan dengan ibunya.

“Hei, Darmi, kamu mau pergi ke mana? Dan siapa perempuan yang di belakang itu? Apakah itu ibumu?”

Wajah Darmi langsung memerah karena malu.

“Oh tidak! Dia bukan ibuku.” Darmi menjawab dengan cepat dan segera mempercepat langkahnya agar tidak ada lagi pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Betapa terkejutnya sang ibu mendengar ucapan anak kesayangannya itu. Kemarahan mulai muncul di hatinya, karena gadis itu tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang ibu. Namun, ia menahan amarahnya dan berharap Darmi segera berubah pikiran. Sayangnya, keinginan sang ibu tidak terkabul. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan beberapa orang lagi dan Darmi mengulangi hal yang sama. Akhirnya, sang ibu tidak bisa lagi menahan kesedihan. Sambil meneteskan air mata, dia berkata pada putrinya.

“Anakku, mengapa kamu malu mengakui aku sebagai ibumu? Aku mengandung dan melahirkanmu ke dunia ini.”

Darmi mendongak dengan marah, “Aku tidak meminta dilahirkan dari ibu yang miskin sepertimu! Aku tidak pantas menjadi putrimu. Lihat diri ibu, jelek, keriput dan sengsara! Ibu lebih pantas jadi pembantuku!”

Dengan angkuh, Darmi terus berjalan meninggalkan ibunya yang terduduk di pinggir jalan. Air mata mengalir di kedua pipinya. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain mengangkat tangannya ke langit. Rasa sakit di hatinya membuat perempuan tua itu mengadu pada Tuhan.

“Tuhan, aku tidak bisa lagi menahan penghinaan anakku! Hatinya seperti terbuat dari batu. Maka kutuklah dia menjadi batu!”

Tiba-tiba langit menjadi gelap, awan biru menjadi mendung, dan kilat menyambar dengan guntur. Darmi menjadi sangat ketakutan dan kemudian berusaha melarikan diri. Tapi kakinya terasa begitu berat dan tidak bisa digerakkan. Ia pun terkejut menyadari bahwa kedua kakinya telah berubah menjadi batu.

Dia menjadi semakin ketakutan ketika pinggangnya ikut membatu. Dia pun tersadar bahwa ini semua karena kedurhakaannya yang besar kepada ibunya. Lalu dia menangis dan menjerit, “Ibuuu! Ibu maafkan aku! Maafkan akuuu!”

Namun, sudah terlambat bagi Darmi. Ibunya tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis sedih karena anaknya berakhir begitu menyedihkan. Dia merasa sudah cukup mengalami penderitaan yang disebabkan putrinya. Jika hanya bekerja keras demi memenuhi permintaan putrinya selama ini, ia masih sanggup menahannya. Namun dihina dan tidak diakui oleh putri kesayangannya sungguh ia tidak bisa menahan diri lagi.

Akhirnya seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Batu jelmaan Darmi ini terus mengalirkan air mata, air mata penyesalan. Orang-orang pun kemudian menyebut batu jelmaan Darmi itu sebagai batu menangis. (Tamat)

 

Disclaimer: Tulisan ini adalah cerita rakyat setempat yang tidak diketahui penulis aslinya dan ditulis ulang oleh Kak Novia Syahidah (Pengasuh KBM for Kids) dengan beberapa perubahan tanpa menghilangkan intisari cerita.

-- Akhir --

Bagikan Cerita

Baca tulisan menarik lainnya

Punya Naskah Cerita Sendiri?

Kirim Naskahmu Sekarang!

Naskah-Homepage