Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki muda tinggal di bagian utara pulau Sumatera. Daerahnya sangat kering. Ia mencari nafkah dengan bertani dan menangkap ikan.
Suatu hari ia menangkap seekor ikan yang sangat cantik. Warnanya kuning keemasan. Seekor ikan yang ternyata hasil kutukan dari seorang putri cantik. Ia dikutuk karena melanggar larangan. Dia bisa kembali ke wujud semula jika ada yang menyentuhnya lebih dulu. Jika ada yang menyentuhnya maka ia akan kembali menjadi seorang putri.
Sang pemuda terpukau melihat ikan yang begitu cantik, maka ia pun menyentuhnya dengan lembut. Tiba-tiba ikan itu menghilang dan muncullah seorang gadis cantik di depannya. Pemuda itu terkejut.
Gadis itu pun menceritakan kisah hidupnya yang dikutuk menjadi ikan. Terpesona oleh kecantikannya, petani muda itu lalu meminta sang putri untuk menjadi istrinya. Lamaran tersebut diterima dengan syarat pemuda tersebut tidak mengungkapkan asal-usulnya yang pernah dikutuk menjadi ikan tersebut.
“Abang tidak boleh menceritakan pada siapa pun tentang asal-usulku sebagai jelmaan ikan. Kalau itu dilanggar maka Abang akan kehilangan aku selamanya,” kata gadis itu.
Petani muda menyetujui persyaratan ini. “Baik, Abang akan menjaga rahasia ini selamanya.”
Setelah satu tahun menikah, pasangan itu dikaruniai seorang putra. Putra mereka ini memiliki kebiasaan buruk di mana ia tidak pernah merasa cukup dalam hal makanan. Dia suka memakan semua makanan yang ada.
Suatu hari anak itu memakan semua makanan yang terhidang hingga ayahnya yang kelaparan karena baru pulang dari ladang, jadi sangat kesal dan berkata, “Dasar keturunan ikan!”
Pernyataan itu jelas mengungkapkan rahasia istrinya. Janjinya dilanggar. Tak lama, istri dan anaknya menghilang secara misterius. Lelaki itu pun terkejut menyadari istri dan anaknya menghilang begitu saja. Ia mencari ke mana-mana namun tak kunjung bersua.
Lelaki itu sangat menyesal dan tak bisa menahan kesedihannya. Setiap hari kerjanya menangis dan menangis. Tanpa disadarinya, dari bekas tetesan air matanya muncul sumber mata air yang makin lama makin banyak. Hingga akhirnya berubah menjadi sebuah danau. Itulah kemudian yang menjadi danau di utara pulau Sumatera, yang kini disebut dengan nama Danau Toba. (Tamat)
Disclaimer: Tulisan ini adalah cerita rakyat setempat yang tidak diketahui penulis aslinya dan ditulis ulang oleh Novia Syahidah (Kak Redaksi KBM for Kids) dengan beberapa perubahan tanpa menghilangkan intisari cerita.


