Tendi mengeluarkan sepedanya sambil melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul 16.00, artinya sebentar lagi tukang awug langganannya tutup.
“Mau ke mana?” tanya Bunda yang sedang menyiram tanaman di kebun kecilnya.
“Beli awug,” jawab anak lelaki umur 10 tahun itu pendek.
Awug, jajanan yang terbuat dari olahan tepung beras dicampur gula merah, air, garam, dan parutan kelapa. Rasanya manis dan gurih. Jajanan khas Sunda yang dimasak dengan cara dikukus menggunakan aseupan anyaman bambu.
“Awug lagi? Bukannya kemarin-kemarin beli awug juga?” Ibu bergumam sendiri.
Setelah pamit, begitu keluar gerbang Tendi langsung mengayuh sepedanya dengan kencang.
“Hari ini harus ketemu,” gumam Tendi pelan pada diri sendiri.
Selama satu minggu ini, setiap hari, sepulang shalat Asar Tendi menuju tukang awug yang jualan di seberang kompleks. Di sana memang tempat jualan jajanan. Mulai dari jajanan tradisional hingga jajanan kekinian ada.
Tendi penasaran dengan anak perempuan yang biasanya ada di samping gerobak awug. Sudah satu minggu ini dia tidak melihatnya.
Setiap Tendi beli awug, dia selalu beli dua kotak. Satu kotak untuknya, satu kotak lagi untuk anak perempuan yang usianya sekitar enam tahun itu. Meski pun dia tidak minta, Tendi selalu membelikannya.
Bukan apa-apa. Anak perempuan yang sampai sekarang Tendi tidak tahu namanya itu terlihat kasihan. Sepertinya tidak terawat. Meski badannya tidak bau, pakaiannya lusuh.
“Dia anak gelandangan?” tanya Tendi kepada Mang Asep penjual awug, saat dia menunggu awug pesanannya.
Mang Asep menggelang, “Dia dititipin di sini sama kakaknya. Kakaknya biasanya cari barang rongsokan di komplek,” jawabnya kemudian.
Ada rasa bahagia yang teramat sangat saat Tendi mengulurkan sekotak awug pada gadis kecil berambut keriting itu. Ditambah lagi dengan anggukan dan senyumannya yang apa adanya sebagai ucapan terima kasih.
Ciiiit!
Sekuat tenaga Tendi mengerem sepedanya. Saat di belokan, dia hampir menabrak seorang kakek-kakek yang jalan pelan-pelan.
“Hati-hati naik sepedanya, Nak” nasihat bapak itu melihat Tendi hampir kehilangan kendali.
Tendi mengangguk, “Maaf Kek. Saya buru-buru,” ucapnya sambil mengatur napasnya yang tersenggal. Sebelum kembali menggowes sepedanya. Sudah hampir pukul 16.00.
***
Saat belok ke jalan utama kompleks, dari kejauhan Tendi melihat anak perempuan itu di depan gerobak awug Mang Asep. Dia sedang bersalaman dengan Mang Asep. Tumben sekali.
Anak perempuan itu ditemani seorang anak laki-laki seusia Tendi. Dia juga salaman dengan Mang Asep sambil menerima sekotak awug. Siapa dia? Ada apa dengan mereka? Apa Mang Asep sebetulnya kenal?
Masih dari kejauhan, anak perempuan dan anak laki-laki itu terlihat meninggalkan gerobak awug.
“Mau ke mana mereka? Aku harus ketemu,” bisik Tendi dalam hati.
Tendi terus mengayuh sepedanya hingga tiba di jalan besar. Anak perempuan dan anak laki-laki itu sudah tidak ada di gerobak awug. Dia mencoba melihat sekeliling, juga tidak ada.
Ketika jalanan sudah lengang, Tendi menyeberang menuju gerobak awug. Napasnya masih naik turun karena lelah mengayuh sepeda.
“Dua kotak Mang,” pesan Tendi.
“Pas banget, ini tinggal dua kotak,” kata Mang Asep tersenyum senang karena dagangannya selalu laris manis.
“Mang, anak perempuan yang biasa di depan gerobak ini ke mana, sih? Sudah seminggu ini nggak lihat?” tanya Tendi mulai mengurai kepenasarannya.
“Anak perempuan?” Mang Asep mengingat-ingat.
Tendi menganguk, “Iya, yang biasa saya kasih satu kotak awug, Mang,” katanya.
“Oooh Rima,” Mang Asep mulai ingat. “Baru saja dia ke sini pamitan,” sambungnya.
“Pamitan?”
Mang Asep menyodorkan dua kotak awug pesanan Tendi, “Iya. Katanya mau tinggal di panti,” ujarnya.
Rima dan Sulung kakaknya, sudah setengah tahun menjadi yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena sakit pernapasan. Selama ini mereka hidup berdua. Bahkan Sulung sudah tidak sekolah. Dia memilih menjadi pemulung.
Setiap memulung, Rima adiknya dititipkan di Mang Asep. Rima tidak mau duduk di warung Mang Asep, dia lebih senang berdiri di depan gerobak sampai Sulung menjemput.
“Hari ini mereka pergi ke panti, katanya biar bisa tetap sekolah,” ujar Mang Asep menutup ceritanya.
“Mang Asep kenal mereka?”
Mang Asep menggeleng, “Enggak, mamang hanya pernah ketemu bapak mereka saat beli awug.”
“Mang Asep tahu, mereka akan tinggal di panti apa?”
Mang Asep kembali menggeleng, “Aduh, tadi apa ya, Mamang lupa,” katanya. “Nanti kalau mamang inget, mamang kasih tahu,” lanjutnya membuat Tendi terdiam.
Tanpa berbicara lagi Tendi meninggalkan gerobak Awug Mang Asep. Dadanya terasa sangat sesak. Dia sedikit menyesal, kenapa baru tahu sekarang? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin?
Tendi mengayuh sepedanya pelan-pelan. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Dia ingin sekali bertemu dengan anak perempuan di samping gerobak awug itu. Anak perempuan itu membuat Tendi bahagia karena mirip sekali dengan Tisa, adik semata wayangnya yang kini telah di alam baka.
(Selesai)


