Apa kamu pernah merasa bosan dengan sesuatu? Misalnya ketika setiap kali harus memakai seragam sekolah yang itu-itu saja, atau mungkin memandangi papan tulis putih yang tidak kunjung berganti warna pelangi. Aku juga pernah merasakannya, terlebih saat jam istirahat sekolah.
“Hanan, kamu bawa bekal apa?” Jihan, teman sebangkuku bertanya pada Hanan, anak laki-laki yang duduk di depan kami.
“Aku bawa spageti. Kalau kamu bawa apa, Jihan?” tanya Hanan kembali.
“Aku bawa donat.” Jihan menunjukkan bekalnya pada kami, lalu menengok padaku. “Kamu bawa apa Zy?”
Tidak ingin mereka melihatnya, aku langsung menarik kotak makanku dari meja, menaruhnya kembali ke dalam tas.
“Pasti cenil lagi. Kamu kan selalu bawa itu, mentang-mentang ibumu jualan cenil,” sahut Hanan meledekku.
“Enggak kok! Hari ini Ibu kasih aku uang jajan biar bisa ngisi kotak makananku. Sudah ah, aku mau ke kantin dulu.” Daripada ketahuan bohong, lebih baik aku menghindari mereka.
Kalau bukan karena malu, mungkin aku tidak akan menyembunyikan kotak makanku. Bayangkan saja, setiap hari Ibu membawakan bekal cenil sisa dagangannya. Meski Ibu bilang yang dimasukkannya masih baru, dan telah mengganti toping-nya dengan coklat atau keju sekalipun, tetap saja bagiku cenil makanan kampung.
Apa tidak ada yang lebih keren? Aku kan juga ingin bekal makan siang berisi ayam goreng, nuget, kentang, spageti seperti teman-temanku. Sayangnya itu tidak pernah terjadi.
Dibanding bosan melihat papan tulis aku lebih bosan dengan cenil ibuku. Sampai-sampai setiap pulang sekolah aku selalu membuang bekal makan siangku ke tong sampah, agar Ibu mengira bekalnya habis kumakan, supaya tidak diceramahi juga.
Sampai suatu hari, aku terlalu muak dengan cenil. Rasanya aku ingin memuntahkan isi perutku, walau hanya mendengarkan nama makanan itu. Bahkan ketika dari dapur Ibu berteriak, “Zi, ayo bantu Ibu buat cenil!”
Aku merengut sebal dan menjawabnya dengan kasar, “Aku enggak mau! Cenil makanan kampungan!”
Aku memilih masuk ke kamar dan berpura-pura membaca buku selagi Ibu mengurut dada menghadapi sikapku. Dari kejauhan aku melihat adikku, Olin, masuk ke dapur. Huh, paling dia mau merecoki Ibu. Aku keluar dari kamar dan mengintipnya.
Lihat saja dia sok bisa membantu memasukkan cenil ke bakul. Paling nanti tumpah, ejekku dalam hati. Tapi ternyata tidak, Olin melakukannya dengan baik. Oh, itu kan memang pekerjaan mudah, pikirku meremehkan.
Lama kuamati pekerjaan adikku, menunggu saat dia melakukan kesalahan dan aku akan menertawakannya. Tapi dia tak kunjung melakukan kesalahan sampai aku mencebik, membuang wajah dan bergumam, “Pasti cenil yang ditaruh Olin ke bakul basi dan berbau.”
Tiba-tiba saja saat aku mengerjap. Aku sudah berada di atas meja makan. Tubuhku terasa sedikit berat, apa lagi saat ada tangan yang memasukkan sesuatu ke dalam tubuhku, rasanya… ah geli! Ada apa ini?
“Ibu! Cenilnya sudah masuk bakul semua!” Itu suara Olin.
Lalu aku melihat Ibu mendekati adikku dan mengusap kepalanya sambil berkata, “Wah, Olin pintar. Ayo, kita bawa bakulnya!”
Tubuhku terangkat, mereka membawaku entah ke mana. Aku ingin bertanya, tapi tidak bisa. Bahkan saat aku melihat sekilas bayanganku dari jendela, aku tidak mempunyai mulut, tangan dan kaki. Apa?! Rupanya aku berubah menjadi bakul cenil!
Sepanjang jalan di terik matahari, aku memikirkan bagaimana bisa berubah, tapi kemudian aku jadi tidak terlalu memikirkannya, karena pikiranku teralihkan pada raut lelah Ibu ketika memikul aku.
Ibu menyeka peluh dan Olin mengeluh lelah berjalan. Ibu pun berhenti untuk duduk di pelataran ruko. Ada beberapa anak yang datang melihat-lihat dagangan Ibu, tapi begitu tahu yang kami jual cuma cenil, mereka mencebik persis seperti yang aku lakukan tadi siang.
Memang cenil itu makanan kampung, tapi melihat mereka menghina kue buatan ibuku, aku jadi kesal. Ibu bahkan harus berjalan kaki dari rumah berkeliling kampung sambil menggendong aku, si bakul cenil. Ah, betapa jahatnya aku selalu menghina dagangan yang susah payah Ibu buat.
Tak lama setelah kami berjalan lagi, ada seorang bibi yang menghampiri. Dia bilang, “Sudah lama saya nunggu Ibu. Teman-teman PKK saya suka loh sama cenil buatan Ibu. Katanya cenil buatan Ibu beda dari buatan pasar, sampai Pak Gubernur saja memuji.”
“Pak Gubernur?” Ibu terkejut. Aku juga ikut terkejut. Benarkah kue khas Jawa Timur yang selama ini kusepelekan, malah dipuji Pak Gubernur?
“Iya, kemarin kami suguhkan cenil, getuk dan kelepon buatan Ibu ke Pak Gubernur. Terus beliau menyuruh saya untuk memesan dagangan Ibu lagi untuk acara penyambutan kunjungan duta besar ke kantor kami, lusa. Bisa kan, Bu dibuatkan lebih banyak?”
Ibu terdiam sejenak menatap Olin, ibu pasti takut tidak bisa mengerjakannya sendirian. Selama ini aku memang jarang membantu Ibu. Tapi, sekarang aku ingin sekali, aku menyesal sudah menghina makanan buatan Ibu. Aku tidak ingin menjadi bakul, aku ingin menjadi diriku lagi agar bisa membantu Ibu. Tapi bagai mana?
Sampai aku menangis kencang pun, aku masih berwujud bakul, bagaimana kalau aku tidak bisa kembali menjadi diriku? Huaaa, Ibuuu, maafkan aku!
“Zi … Zi!”
Aku mengucak mata begitu mendengar panggilan Ibu.
“Kok, kamu nangis?” Ibu menatap kawatir dan langsung mengelus punggungku. Sementara Olin mengacungkan tisu untukku. Apakah aku sudah kembali menjadi diriku lagi?
“Ibu, maafkan aku. Aku janji akan selalu membantu Ibu dan tidak akan mengejek cenil buatan Ibu lagi.” Aku langsung memeluk Ibu erat-erat.
“Masya Allah, pintarnya anak Ibu. Maafkan Ibu juga ya, Nak, hanya bisa membawakanmu bekal makanan yang itu-itu saja. Jika kita selalu bersyukur, maka Allah akan melimpahkan keberkahan pada kita.”
“Iya Bu, aku akan selalu ingat nasihat Ibu. Sini, aku bantu bawa bakulnya, Bu!” Aku langsung bergegas ke dapur, mengambil bakul cenil yang sudah siap dibawa berkeliling.
Sejak saat itu aku tidak lagi membuang bekal makan siangku, dan aku sangat bersyukur memiliki koki yang hebat seperti Ibu. (Tamat)
Zi Aldina adalah nama pena wanita asal Jakarta Timur yang telah berkontribusi dalam enam buku antologi, dan sudah menerbitkan enam novel di berbagai platfom online. Baginya menulis bukan hanya sekedar merangkai kata, tapi juga perantara berbagi ilmu dan pesan kehidupan untuk semua orang. Ikuti jejaknya di IG : Zi_Aldina.


